graduate

675 93 16
                                        

Setelah malam kejujuran itu, keduanya seperti berdiri di tengah ruang sunyi yang luas. Tidak ada teriakan, tidak ada pintu dibanting. Hanya rasa lelah yang menggantung di udara—lelah mencintai sambil menahan luka yang belum sembuh. Jiaya mendengarkan semua yang Genta ceritakan tentang Clara, tentang masa lalunya, tentang bagaimana ia tumbuh dari cinta yang penuh manipulasi dan tuntutan yang bukan untuk anak seumurannya. Jiaya mengerti bahwa luka itu masih hidup, masih mempengaruhi caranya mencintai sekarang.

Di saat itu, ia menyadari sesuatu: hubungan yang mereka jalani bukan rusak karena kurang cinta—justru karena cinta itu terlalu besar dan tidak punya tempat aman untuk berdiam. Jiaya mengusap napasnya pelan dan berkata, dengan suara lembut yang tidak bisa dipertanyakan, "Kita break dulu, Gen. Bukan selesai. Tapi istirahat. Kamu perlu sembuh. Aku juga perlu belajar berdiri sendiri." Genta langsung menolak waktu itu. Ia takut break berarti ditinggalkan. Takut kehilangan. Tapi beberapa hari setelahnya, Ijo, Jevan, dan Kuta datang. Mereka tidak menghakimi. Tidak memaksa. Hanya menunjukkan hal yang selama ini Genta tutupi: bahwa ia capek, dan Jiaya juga capek.

Dan akhirnya, Genta mengangguk. Bukan karena menyerah, tetapi karena mengakui bahwa ada bagian dari dirinya yang harus ia perbaiki tanpa membebani siapa pun. Setelah itu, break dimulai. Tidak ada blokir, tidak ada pesan panjang yang putus-putus di tengah malam. Jiaya menonaktifkan notifikasi dan memberi ruang bagi dirinya untuk bernapas. Genta mulai rutin terapi, belajar mengenali emosinya sendiri, mencoba mengembalikan dirinya tanpa harus bergantung pada siapa pun. Waktu bergerak pelan: satu minggu, dua minggu, kini satu bulan penuh.

Mereka berhenti menghubungi. Tidak ada "udah makan." Tidak ada goodnight call. Tidak ada check-in manis. Tapi tidak juga ada kebencian. Hanya dua orang yang masih saling sayang, tetapi memilih menjaga jarak agar cinta itu tidak berubah menjadi bentuk luka baru. Untuk sementara, mereka berjauhan. Bukan karena selesai. Justru karena mereka ingin hubungan ini tetap punya masa depan.






POV Genta

Break itu bukan cuma soal tidak menghubungi Jiaya—itu juga tentang menghadapi diam yang selama ini selalu ia hindari.

Genta bangun lebih pagi sekarang. Bukan karena segar, tapi karena otaknya berhenti bisa tidur lama. Dapur rumah terasa lebih kosong. Tidak ada notifikasi pesan. Tidak ada panggilan video. Tidak ada suara lembut yang selalu bilang, "Pelan-pelan ya hari ini."

Awal-awal, Gina sempat bertanya pelan waktu sarapan,
"Gak ada kabar dari Jiaya?"
Genta cuma geleng. Sesimple itu.
Tidak perlu penjelasan panjang. Semua orang di rumah paham: ada sesuatu yang patah.

Arka paling cepat nangkep kondisi itu. Suatu sore, dia masuk ke kamar Genta tanpa ketuk pintu, langsung nyeret kursi dan duduk.

"Hari ini ada acara gak?"

"Gak."

Arka menatapnya sebentar, lalu menawarkan sesuatu yang tidak berlebihan, tidak memaksa.
"Ikut ke kantor papa yuk. Kalau bisa bantuin papa tiap hari. Papa butuh orang buat handle arsip dan meeting data internal. Kamu juga sebentar lagi mau kuliah. Daripada nganggur kepikiran terus, mending belajar ritme kerja."

Genta diam.

Tapi pada akhirnya ia mengangguk pelan.
"...iya."

Hari itu, ia ikut Arka ke perusahaan.

Ruangannya dingin. Rapi. Semua orang berjalan dengan ritme yang pasti. Tidak ada yang peduli siapa ia, kecuali beberapa yang menyapa dengan sopan, "Pagi, Mas Genta." Ia duduk di meja kosong, mulai mengurus dokumen, mendengarkan penjelasan Arka tentang struktur dan workflow.

TOXICLOVE (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang