Prolog

8.8K 284 14
                                        

"Bukannya aku tidak percaya akan cinta, tapi cinta yang membuatku tidak percaya akan keberadaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bukannya aku tidak percaya akan cinta, tapi cinta yang membuatku tidak percaya akan keberadaannya." -Magenta Gama Tama

.

.

.

Dahulu, nama Magenta Gama Tama adalah sebuah nama yang jika disebut seluruh waga sekolah akan tahu. Cukup sebut satu suku nama, "Mage". Dia adalah anugerah yang nyata; paras rupawan yang memberinya ribuan hak istimewa, langkah kaki yang selalu diikuti bisik-bisik pemujaan, dan senyum yang mampu meluluhkan hari yang paling kelabu sekalipun.

Namun, di balik lapisan privilege itu, Mage hanyalah seorang pemuda yang haus akan ketulusan. Ketika dunia menawarkan ribuan wanita yang mengantre demi perhatiannya, hatinya justru tertambat pada satu kail yang salah. Seorang siswi yang semula tampak malu-malu dan menghindar, namun ternyata menyimpan sisi gelap yang lebih pekat dari malam.

Satu Kata Keramat: Sayang

Tiga bulan pertama adalah fatamorgana. Setelahnya, topeng itu hancur. Gadis lembut idamannya berubah menjadi monster yang menghancurkan dirinya perlahan.

Hujan badai mungkin turun di luar, tapi di dalam mobil itu, suasana jauh lebih mencekam.

"Tadi kenapa?" Suara si perempuan dingin, tajam seperti sembilu. "Kenapa telat?"

Mage menghela napas, jemarinya meremas kemudi hingga buku jarinya memutih. "Jalanan macet banget, Sayang. Aku tadi udah berusaha—"

"Alasan!" potongnya cepat. Matanya menyipit penuh kebencian. "Kalau emang nggak niat jemput, bilang. Nggak usah sok sibuk. Tahu gitu mending aku bareng Rangga. Dia jauh lebih bisa diandalkan daripada kamu."

Mage menoleh, matanya menyiratkan luka yang dalam. "Bisa nggak jangan bawa-bawa nama dia terus? Aku telat cuma dua puluh menit..."

"Oh, jadi sekarang kamu hitung-hitungan sama aku?" Perempuan itu tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak pernah mencapai matanya. "Ternyata bener ya, kamu mulai berubah. Kamu mau kita selesai sampai di sini aja?"

Kata 'selesai' adalah tombol darurat bagi Mage. Seketika, egonya runtuh. 

Wajahnya yang semula kesal berubah memelas. "Nggak... bukan gitu maksud aku. Maaf. Aku janji nggak bakal telat lagi. Tolong, jangan ngomong gitu ya."

Perempuan itu hanya mendengus, membuang muka ke arah jendela. "Udahlah, jalan aja. Aku mau istirahat. Nanti malam ada janji sama temen-temen aku."

Mage tidak menyalakan mesin. Ia justru mengulurkan tangan, menyentuh pipi kekasihnya dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen yang mudah pecah. "Kamu... mau ke sana lagi?"

"Iya. Kenapa? Kamu mau ngelarang?"

"Nggak usah, ya? Aku nggak suka kamu di sana. Nanti malam aku—"

PLAK!

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang