toxiclove
Seharian penuh Jiaya sibuk dengan pekerjaan, dari satu pemotretan ke pemotretan lain, hampir tak sempat duduk atau bernapas lega. Waktu pulangnya pun belum pasti, dan itu selalu membuatnya sedikit tegang. Tapi malam ini, ada sedikit rasa lega. Juan yang akan menjemputnya. Jiaya tak perlu repot mengganggu Melinda, manajernya, atau mengatur sesuatu secara mendadak. Hatinya bisa sedikit lebih tenang.
Saat keluar dari studio, lampu kota yang temaram memantul di jalanan basah. Jiaya masih mengenakan pakaian kerjanya—blus rapi yang dipadukan dengan celana formal, rambutnya masih tertata meski sedikit kusut karena seharian bekerja, dan riasannya tetap terlihat natural namun menonjolkan wajahnya yang cantik. Langkahnya ringan, tapi ada kesan lelah yang lembut di mata. Dia membayangkan dirinya masuk ke mobil, bersandar, dan membiarkan semua ketegangan hari itu mencair. Malam ini, dia tak akan sendiri. Ada Juan yang menunggunya, seseorang yang selalu bisa membuatnya merasa aman.
Jiaya melangkah keluar dari studio, lelah tapi masih terlihat cantik dalam balutan pakaian kerja rapi. Lampu kota malam memantul di jalanan, dan dia merasa sedikit lega karena Juan yang akan menjemput.
Dia membuka pintu mobil dan terkejut melihat Jordy tertidur di kursi belakang.
"Juan... why is he here?"
(Juan... kenapa dia ada di sini?)
Juan menoleh, ekspresinya tenang tapi tegas.
"I didn't force him. He wanted to come by himself. I already told him, you never said what time you'd be done tonight. He insisted anyway."
(Aku nggak maksa dia ikut. Dia yang mau sendiri. Aku udah bilang kamu pulangnya nggak tentu jam berapa. Dia tetep ngeyel.)
Jiaya menatap Jordy sebentar, hatinya hangat, senyum tipis muncul di bibirnya.
"He misses me, doesn't he?"
(Dia kangen aku ya?)
Juan tersenyum lembut, maskulin, dan menepuk kepala Jordy perlahan untuk menenangkan suasana.
"Yeah... he does. But relax, everything's fine."
(Iya... dia kangen. Tapi santai, semuanya baik-baik saja.)
Jiaya menarik napas panjang, merasa terharu sekaligus lega. Di samping Juan, dia merasa aman—walau masih ada sedikit rasa canggung melihat Jordy, tapi hatinya hangat.
Juan menatap Jiaya sambil menyetir, lampu jalanan memantul samar di kaca depan.
"You still planning to buy a house?"
(Kamu jadi beli rumah?)
Jiaya menggeleng, tersenyum malu-malu.
"Not yet... I'll think about it later. I don't really need one right now. But... can I come over to your place more often?"
(Enggak ah, nanti aja. Setelah aku pertimbangkan lagi, kayaknya belum butuh-butuh banget. Tapi aku boleh kan lebih sering ke rumah kamu?)
Juan tersenyum, menoleh sebentar, nada suaranya hangat tapi tegas.
"Of course you can." (Ya boleh dong.)
Jiaya tersenyum, suara lembut dan agak manja. "I missed him too... I didn't think he'd be here." (Aku juga kangen dia... aku nggak nyangka dia bakal ada di sini.)
Juan menoleh sekilas, ekspresinya hangat tapi maskulin.
"He insisted. I didn't force him. You know... sometimes he just knows what he wants."
(Dia ngeyel sendiri. Aku nggak maksa. Kamu tahu kan... kadang dia cuma tahu apa yang dia mau.)
Jiaya menepuk kursi belakang pelan, hampir ingin menyentuh Jordy tapi takut membangunkannya.
"I'm glad... I feel better now, seeing him."
(Aku senang... aku merasa lebih tenang sekarang, lihat dia.)
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
