Sore hari itu, langit berwarna keemasan. Jiaya baru saja menutup laptopnya ketika ponselnya bergetar — nomor tidak dikenal muncul di layar.
"Jiaya?"
"Halo?"
"Jiaya, kamu lagi sibuk nggak?" suara Gina terdengar manis tapi terukur.
"Tante ya? Lagi senggang, Tante. Kenapa ya?"
"Bagus. Genta makanan kesukaannya apa ya? Bisa datang ke rumah, bantu Tante masakin sesuatu buat dia? Dia kan lagi di luar sama teman-temannya, nanti biar pas pulang langsung makan."
"Oh, tentu bisa, Tante."
"Baik. Tante tunggu, ya. Jangan lama-lama."
Nada terakhir itu terdengar seperti perintah lembut, dan Jiaya tahu — ini bukan undangan biasa.
Sekitar setengah jam kemudian, Jiaya tiba di rumah keluarga Arka. Rumah itu besar dan rapi, tapi terasa sepi. Gina sudah menunggunya di dapur, memakai apron elegan dan memegang sendok kayu.
"Wah, Tante udah mulai masak ya," sapa Jiaya sopan.
Gina menoleh, tersenyum kecil. "Baru mau, tapi tangannya udah pegal. Untung kamu datang cepat."
Jiaya menaruh tasnya dan mencuci tangan. "Tante mau masak apa?"
"Genta suka ayaam, kan? Mungkin kamu punya resep lain?"
"Biasanya aku jadiin ayam mentega aja tan, dia suka banget pas waktu itu aku bawa bekal dari rumah" jawab Jiaya sambil menyiapkan bahan.
"Ayam mentega..." gumam Gina sambil menatap Jiaya sejenak, "Kamu ini... perhatian banget sama Genta, ya."
Jiaya tersenyum kecil. "Kebetulan aja tahu, Tante. Soalnya sering bareng waktu makan."
"Oh, sering bareng makan, ya," kata Gina, nadanya ringan tapi matanya menelusuri setiap gerak Jiaya. Jiaya hanya tersenyum, tetap fokus memotong bawang.
Mereka bekerja berdua di dapur — suasananya hening tapi penuh lapisan makna. Gina sesekali mengarahkan sesuatu: "Sayurnya jangan terlalu lembek, pas kecil Genta nggak suka." Atau, "Kalau kamu di rumah Genta, kamu juga yang masakin gitu?"
"Kadang, Tante. Kalau dia sibuk aja," jawab Jiaya tetap lembut.
"Hebat ya... zaman sekarang susah cari perempuan yang mau repot buat masakin cowok, padahal belum menikah" kata Gina sambil terkekeh, tapi nada di balik tawa itu terasa menggoda.
Jiaya hanya menunduk sedikit, menahan diri. "Saya senang, Tante. Masak buat orang lain tuh bikin hati tenang."
Gina meliriknya, lalu dengan nada setengah bercanda, "Tapi jangan tenang-tenang amat, nanti Genta malah beneran keterusan sama kamu."
Jiaya terdiam sejenak, lalu menjawab pelan tapi mantap, "Kalau memang itu yang terbaik buat dia, saya cuma bisa bersyukur, Tante." Senyum Gina sedikit menurun, tapi ia cepat menutupi dengan tawa kecil.
"Jawaban yang cantik."
Mereka kembali diam. Suara penggorengan berdesis, aroma manis gurih menyebar di dapur.
Sesekali Gina memperhatikan cara Jiaya bekerja — rapi, hati-hati, dan sabar.
"Tau nggak, Jiaya," ujar Gina tiba-tiba sambil mencuci piring, "kadang tante suka takut... Genta terlalu bergantung sama orang. Dulu dia keras, sekarang malah lembek kalau udah soal perasaan."
Jiaya menatapnya, lalu berkata pelan, "Mungkin karena sekarang dia punya alasan buat lembut, Tante."
Gina menoleh — ada keheningan pendek di antara mereka. Lalu Gina menghela napas panjang, suaranya lebih lembut kali ini.
"Kamu ngomongnya selalu tenang ya, Jiaya. Kayak nggak bisa dibikin kesal."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
