No one can replace her figure,
including you.
Pagi itu, atmosfer sekolah terasa sangat berbeda dari biasanya. Suasana di koridor tidak lagi berisi obrolan santai tentang tugas atau rencana akhir pekan, melainkan dipenuhi oleh desas-desus panas yang menyebar dari mulut ke mulut. Berita kecelakaan Ijo semalam telah menjadi konsumsi publik, namun sayangnya, informasi itu telah terdistorsi menjadi asumsi-asumsi liar yang kejam.
Di kantin bawah, segerombolan siswa tampak berkumpul sambil berbisik-bisik setiap kali melihat anggota geng Genta yang lain lewat.
"Gila ya, si Ijo itu. Motornya hancur katanya di tikungan Medika. Lo tahu sendiri kan jam segitu biasanya anak-anak kayak mereka lagi pada ngapain?" celetuk seorang siswa dengan nada menghakimi.
"Paling juga mabok. Mana ada orang waras bawa motor sekencang itu kalau nggak lagi teler atau ngobat," timpal temannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Denger-denger sih dia emang udah jadi incaran, emang dasarnya brandal, ya mau gimana lagi? Lingkarannya aja kayak gitu."
Predikat "brandal" yang selama ini melekat pada Ijo dan Genta membuat orang-orang dengan mudah memberikan label negatif tanpa tahu fakta yang sebenarnya. Bagi mereka, kecelakaan itu hanyalah "buah" dari kenakalan remaja yang selama ini mereka lakukan. Tak ada yang tahu bahwa di balik hancurnya motor Ijo, ada seorang sahabat yang sedang panik luar biasa mencoba merengkuh temannya yang sedang berduka.
Praduga-praduga itu terus bergulir di setiap sudut sekolah. Ada yang bilang Ijo kecelakaan karena dikejar polisi, ada yang bilang dia sedang balapan liar, bahkan ada yang tega menyebutnya sebagai karma.
Kenyataan pahit bahwa Ijo saat ini terbaring menahan sakit di kepala dan tubuhnya, serta fakta bahwa Genta baru saja pulang dari tanah pemakaman yang masih basah, tertutup rapat oleh bisingnya fitnah yang terus digulirkan oleh mereka yang hanya bisa melihat dari permukaan.
Di sudut kantin yang agak tersembunyi dari keramaian, Jiaya duduk di hadapan Risa dengan sebuah mangkuk bakso yang sama sekali tidak disentuhnya. Uap panas dari makanan itu perlahan menghilang, sama seperti semangat Jiaya yang sempat padam sejak kemarin.
Risa menatap sahabatnya itu dengan cemas. "Ji, lo beneran nggak mau makan? Muka lo masih pucat banget, demam lo bisa naik lagi kalau perut lo kosong."
Jiaya menggeleng pelan. Matanya tidak fokus, ia justru menatap ke arah meja kosong di pojok kantin—tempat yang biasanya diisi oleh tawa kasar Ijo dan kehadiran Genta yang dominan.
"Ris," panggil Jiaya lirih.
"Kenapa, Ji?"
"Gue mutusin buat berhenti," ucap Jiaya. Risa sempat mengira Jiaya ingin putus, namun kalimat selanjutnya membuat Risa tertegun. "Gue mau berhenti nuntut Genta buat jadi apa yang gue mau. Gue mau berhenti nunggu dia yang dateng duluan buat minta maaf atau sekadar kasih kabar."
Jiaya menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya. "Selama ini gue terlalu egois. Gue selalu ngerasa gue korban karena dia kasar, karena dia nggak komunikatif. Tapi gue nggak pernah coba buat ngerti apa yang sebenernya dia pikul. Omongan Ijo kemarin... bener-bener nampar gue."
Risa memegang tangan Jiaya yang terasa dingin. "Terus rencana lo apa?"
"Gue mau kasih chance buat dia, dan buat diri gue sendiri. Gue mau mencoba mengayomi dia, Ris. Gue mau ada di samping dia bukan sebagai beban yang harus dia jagain terus, tapi sebagai orang yang bisa dia jadiin tempat pulang kalau dia lagi suffer," Jiaya mengusap air mata yang hampir jatuh. "Gue nggak mau menjauh lagi cuma karena gengsi atau takut disakitin. Kalau dia emang lagi di tempat gelap, gue yang bakal bawa lampunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
