Jiaya sedang duduk di kursi salon, menikmati jeda sebentar dari pekerjaan photoshoot. Handphonenya berdering, nama Juan terpampang di layar.
"Hey, I was thinking... I have a dinner with a client tonight. I want you to come with me," suara Juan terdengar hangat tapi tegas di telepon.
(Hey, aku lagi mikir... aku ada dinner sama klien malam ini. Aku pengen kamu ikut.)
Jiaya tersenyum tipis, sambil menata rambut yang baru selesai dicatok.
"Yeah, I can. Just pick me up at the usual salon, okay?"
(Iya, bisa. Nanti jemput aku di salon biasa ya.)
"Perfect. See you later," kata Juan singkat, lalu menutup telepon.
Malamnya, Jiaya sudah siap, berpakaian rapi tapi tetap chic, ketika Juan menjemputnya. Mereka pun menuju restoran yang agak mewah, mobil berjalan lancar di jalanan kota. Sesampainya di restoran, Juan menoleh ke Jiaya, menenangkan dengan senyum kecil.
"Don't worry, it's just business," bisiknya, menggenggam tangan Jiaya sebentar di kursi.
(Jangan khawatir, ini cuma urusan bisnis.)
Jiaya menarik napas pelan, menyesuaikan diri, tapi dalam hatinya—kejutan kecil itu sulit diabaikan. Dinner yang seharusnya santai, tiba-tiba menjadi... penuh dinamika.
Mereka duduk di meja makan, suasana hangat tapi tetap profesional. Jiaya mencoba rileks, tapi ada getaran halus—ia merasa diperhatikan, tapi tidak tahu sepenuhnya kenapa. Juan duduk di sampingnya, wajahnya tenang, tatapannya tajam dan terkontrol. Dia diam, sesekali menatap Jiaya sambil menilai—seperti menebak bagaimana reaksi Jiaya terhadap orang-orang di sekitarnya, suasana.
Di permukaan, ia tersenyum sesekali, mengangguk, menunjukkan ketenangan. Tapi dalam hatinya, Juan sedang "ngetes" Jiaya. Apakah dia cukup kuat untuk menghadapi sejarahnya sendiri tanpa kehilangan kendali? Segala gestur Juan—sapu pandang singkat, jari yang menepuk meja, senyum yang minim—adalah pengamatan. Ia tak pernah berkata, tak pernah menekan, tapi setiap hal yang dilakukan Jiaya dia tangkap dan simpan.
Juan meneguk minumannya pelan, matanya menatap Jiaya dari samping.
"Did you manage to get everything done at the salon today?"
(Jiaya, kamu beres semua urusan di salon hari ini?)
Jiaya tersenyum ringan, mencoba santai.
"Yeah, all done. Took a bit longer than expected though."
(Iya, semua selesai. Cuma agak lebih lama dari perkiraan.)
Juan mengangguk, nada suara tenang tapi matanya tak lepas menilai.
"Mmh... and how did you handle that unexpected?"
(Mmh... dan gimana kamu menghadapi hal yang nggak terduga itu?)
Jiaya mengerjap, sadar sedikit diuji tapi tetap menjawab.
"Oh, just followed protocol. Stayed calm and polite."
(Ah, cuma ikutin prosedur. Tetap tenang dan sopan.)
Juan senyum tipis, hampir tak terlihat, tapi ada tekanan halus dalam nadanya.
"Good. It's important... to stay composed when things get tricky."
(Bagus. Penting untuk tetap tenang saat situasi rumit.)
Jiaya tersenyum, tapi hatinya sedikit berdebar—dia tahu Juan menilai.
"Yeah... I guess practice helps."
(Iya... latihan memang membantu.)
Juan mengalihkan pandangan sejenak ke Genta dan Vika, tapi pikirannya tetap tertuju pada Jiaya.
"Remember... it's not just about handling work. Sometimes... the past shows up unexpectedly."
(Ingat... ini bukan cuma soal pekerjaan. Kadang... masa lalu muncul tanpa diduga.)
Jiaya menelan, sedikit terkejut tapi mencoba tetap santai.
"Yeah... I know. Gotta face it eventually, right?"
(Iya... akhirnya harus dihadapi juga, kan?)
Juan mengangguk, senyum tipisnya kini mengandung makna yang lebih dalam—tenang, maskulin, tapi tetap menegaskan.
"Exactly. Just... don't let it unbalance you. I'll watch over you."
(Benar. Jangan sampai itu bikin kamu goyah. Aku bakal jaga kamu.)
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
