Qt

706 80 0
                                        


Kepala Genta terasa berat. Kelopak matanya lengket, seolah ada pasir menahan. Begitu ia membuka mata, lampu ruangan remang. Dinding abu gelap. Bau lavender samar dari diffuser. Bukan rumah. Bukan kamarnya.

Suara pelan terdengar dari sisi tempat tidur.

"Ta. Minum dulu."

Ijo duduk di kursi lipat, hoodie-nya masih terpakai, rambut sedikit acak. Di tangannya segelas air. Tatapannya serius, bukan panik, tapi jelas sedang menahan banyak hal.

Genta menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti habis diasapkan.

"...gua di mana?"

"Kamar gua," jawab Ijo pendek.

Genta menoleh pelan. Selimut menutupi badannya setengah. Tapi bajunya masih utuh, celananya juga.

Darah di dada Genta seperti menegang.
Ada sesuatu yang sangat salah.

"Kenapa gua—"

Ijo menghela napas panjang, menunduk.
Lalu mulai menceritakan secara runtut. Tanpa dramatisasi, tanpa jeda panjang.




Flashback

Awalnya, Ijo cuma lihat Genta lagi ngobrol sama cewek. Cewek itu pakai dress ungu mengkilap. Make-up-nya rapi, senyum menggoda, matanya tak pernah lepas dari Genta. Ijo pikir itu cuma cewek biasa. Dan dia tahu Genta bisa jaga diri. Jadi dia biarin. Sampai beberapa menit kemudian, pas Ijo balik dari area luar sambil bawa minuman, Genta tidak ada.

Bangku bar kosong.
Tidak ada jejak.

Ijo langsung cari. Tanyain Jevan—jawabannya gak tau. Kuta juga gak liat.

Ijo ke bartender.
"Ngerasa lihat cowok ini gak? Tinggi, kaos hitam?" Bartender cuma geleng.

Ijo mulai gelisah.
Dia telepon Genta berkali-kali.
Nggak diangkat.

Sampai satu waitress nyeletuk tanpa sengaja:

"Tadi saya lihat dia dibawa ke lantai atas sama cewek yang pake dress ungu berkilau itu..."

Lantai atas. Ijo langsung tahu: di sana ada kamar. Langkah Ijo naik tangga cepat, tapi tetap tenang. Dia ketok pintu satu-satu. Beberapa kamar kebuka dan isinya orang lain. Ada yang lagi ngobrol. Ada yang kosong.

Sampai ke pintu paling ujung.

Pintu terbuka sedikit.

Cewek itu yang muncul. Dress ungu. Mata tajam. Senyum dingin.

"Maaf, kamar ini—"

Ijo tidak menunggu penjelasan.

"Minggir." Nadanya datar, tapi tidak bisa dibantah.

Clara refleks mundur setengah langkah. Dan Ijo masuk. 

Genta tergeletak di kasur, napas berat, mata setengah tertutup. Bajunya tersingkap naik, tubuhnya tidak bergerak. Tidak sadar. Tidak sadar sama sekali.

Ijo langsung narik selimut, nutupin tubuh Genta. Lalu dia menatap Clara—dingin, tidak teriak, tidak emosi.

"Lu mau gua panggil security atau polisi?"

Clara terdiam. Bibirnya bergetar, tapi bukan karena takut—lebih karena ketahuan niatnya.

Ijo tidak menunggu. Dia langsung mapah Genta keluar kamar, turun tangga, keluar dari club, masuk mobil, pulang.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang