Malam itu Jiaya berdiri di depan cermin, sibuk menyisir rambut sambil sesekali mengecek make-up ringan yang ia pakai. Ponselnya bergetar.
"Gua udah di bawah," bunyi chat dari Genta.
Jiaya menatap layar sebentar, tersenyum kecil, lalu menarik napas. Ia menuruni tangga, membuka pintu, dan...
Di depan mobil, Genta berdiri santai dengan setelan kasualnya, tapi sorot mata Jiaya langsung terpaku. Dress simpel berwarna lembut itu jatuh pas di tubuh Jiaya—tidak berlebihan, tapi cukup bikin aura Jiaya terlihat elegan dan memikat.
"Wow..." Genta tanpa sadar menggumam, lalu menoleh cepat, merasa malu karena terdengar.
Jiaya hanya tersenyum tipis, satu alis terangkat seperti biasa, santai tapi tetap menggoda.
"Kenapa? Kaget?"
Genta menggeleng cepat, tapi bibirnya tetap tersenyum.
"Enggak kok... cuma... dress-nya... cantik."
"Just the dress?"
"Nah, you look stunning, amazing, hot tho."
"Jadi takut ada udang dibalik batu kalau muji gini."
Sambil menahan tawa kecil, menatap Jiaya dengan mata berbinar. Tanpa banyak kata, ia membuka pintu mobil.
"Ayo, masuk. Kita berangkat."
Jiaya berjalan mendekat, masih terpesona juga sama Genta tapi berusaha santai. Di mobil, udara terasa ringan, ada ketegangan manis tapi nyaman—momen ketika Jiaya baru sadar..
•••
Genta membuka pintu restoran, dan Jiaya langsung menyusul sambil menatapnya sebentar. Jas Genta membuat Jiaya tak bisa menahan senyum tipis. "You look absolutely handsome, too" ucapnya pelan, cukup untuk Genta dengar. Genta menoleh, senyum tipis mengembang, lalu menyambar tangannya.
Di meja, Arka dan Gina sudah menunggu. Arka tersenyum hangat, "Ah, akhirnya kalian datang. Duduklah, Nak." Gina menatap Genta dengan mata lembut, seolah menilai putranya yang kini sudah tumbuh dewasa.
Genta duduk di samping Jiaya, sedikit menempel ke sisinya tanpa mengurangi jarak sopan. Jiaya menepuk paha Genta pelan, memberi kode agar tetap sopan.
"Menu malam ini sudah dipilih, tapi kalian boleh pilih sendiri juga," kata Arka sambil tersenyum. Jiaya mengangguk, matanya sesekali melirik Genta, yang sibuk memperhatikan daftar menu sambil sesekali menatapnya.
"Gua pesen steak medium rare," kata Genta tanpa menoleh, tapi Jiaya mendengar jelas. Ia tersenyum kecil, "Hati-hati, jangan kebanyakan bumbu, nanti nggak kerasa dagingnya," godanya.
Genta menoleh, tersenyum nakal, "Oke, chef."
Gina menatap mereka sebentar, lalu menghela napas pelan. "Kalian ini... kayak masih SMA ya," ujarnya sambil meneguk air putih.
Arka menambahkan, "Senang rasanya lihat kamu mau datang."
"Terima kasih om udah ngundang aku juga buat makan malam. Genta juga pasti seneng bisa ngumpul lagi sama keluarganya," Jiaya meraih tangan Genta di bawah meja, menggenggam lembut. Hanya Genta yang tahu sentuhan itu.
"Dengan senang hati. Oh ya kita belum resmi kenalan ya?"
"Oh iya om, saya Jiaya satu sekolah sama Genta."
"Salam kenal, Jiaya. Saya Arka, papanya Genta," Terdengar suara kekehan cemooh Genta. "Maaf kalau selama ini saya jarang perhatiin Genta."
"Loh kenapa minta maaf ke saya om?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
