Pagi di villa datang pelan, seperti ombak yang menyentuh pantai tanpa suara. Cahaya matahari sudah merayap masuk sejak lama, menyusup lewat celah tirai, memantul di lantai kayu, lalu berhenti di dinding putih yang masih dingin oleh sisa malam.
Udara masih menyimpan aroma laut—tipis, asin, bercampur dengan wangi tanaman dari taman belakang yang terbawa angin. Villa yang kemarin riuh oleh tawa, musik, dan langkah kaki sekarang terasa lengang, seolah semua orang masih tenggelam di mimpi masing-masing.
Jam di dapur hampir menunjukkan pukul sebelas siang.
Dan di antara semua penghuni villa, hanya satu orang yang sudah bangun.
Jiaya.
Kebiasaan bangun paginya sulit diubah. Bahkan setelah malam panjang, tubuhnya seperti punya alarm sendiri. Matanya terbuka, dan begitu sadar, dia sudah tidak bisa kembali tidur.
Dengan rambut masih sedikit kusut dan kaos longgar yang jatuh santai di bahunya, Jiaya berjalan pelan ke dapur. Lantai terasa dingin di telapak kakinya, dan suara langkahnya kecil, hampir tidak terdengar.
Villa masih sunyi. Bahkan suara kulkas yang berdengung pelan terdengar jelas.
Jiaya membuka pintunya, menatap isi di dalam. Pasta, telur, saus, sayuran... cukup.
Dia tersenyum kecil, sudut bibirnya naik tanpa sadar.
"Masak ah..."
Beberapa menit kemudian, dapur mulai hidup.
Air mendidih pelan, bawang putih menyentuh minyak panas dan mengeluarkan aroma yang langsung memenuhi ruangan—hangat, gurih, dan sederhana. Suara sendok kayu mengaduk wajan terdengar ritmis, seperti irama kecil di pagi yang tenang.
Jiaya memasak tanpa buru-buru, menikmati setiap gerakan, setiap aroma, setiap detik yang terasa lambat.
Beberapa menit kemudian, terdengar langkah pelan dari arah tangga.
Rara muncul di ambang dapur, masih sedikit mengantuk, rambutnya jatuh berantakan di bahu, matanya menyipit karena cahaya.
Dia berhenti begitu mencium aroma masakan.
"Kak Jiaya...?"
Jiaya menoleh, langsung tersenyum hangat.
"Pagi... eh, siang ya ini."
Rara terkekeh kecil, lalu mendekat pelan.
"Kakak masak?"
"Iya, spaghetti. Laper."
Rara berdiri di sampingnya, memperhatikan dengan rasa ingin tahu seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang menyenangkan.
"Aku bantu ya?"
Jiaya mengangguk tanpa ragu.
"Mau dong. Ambilin piring di situ, yang bawah."
Rara langsung menurut, gerakannya cepat tapi hati-hati. Mereka bekerja berdampingan tanpa banyak bicara, tapi suasananya nyaman—jenis diam yang tidak canggung.
Jiaya sempat meliriknya.
"Tidurnya nyenyak?"
Rara mengangguk.
"Nyenyak banget... capek soalnya."
Jiaya tersenyum kecil.
"Iya... kemarin lumayan ya."
Mereka tertawa pelan.
Saat spaghetti hampir selesai, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan.
Tok tok tok.
Jiaya dan Rara saling pandang.
"Siapa ya?" gumam Rara pelan.
Jiaya mengelap tangannya, lalu berjalan ke pintu. Begitu pintu dibuka—
Dia terdiam sebentar.
"Lucy?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
