Keesokan harinya, suasana sekolah terasa agak aneh buat Genta.
Biasanya, dari ujung koridor aja udah kelihatan Jiaya jalan bareng Risa, ketawanya kedengeran duluan sebelum orangnya kelihatan. Kadang ngobrol gak jelas, kadang ribut sendiri, kadang Jiaya yang nyerocos dan Risa cuma ngangguk sambil ngakak.
Sekarang... kosong.
Pas bel pergantian jam bunyi, Genta yang lagi setengah nyandar di kursi sempat nyenggol bahu Ijo.
"Eh, lu liat Jiaya nggak dateng?"
Ijo masih fokus ke minuman kotaknya, nyedot santai.
"Kayaknya enggak, deh."
"Hmm."
Pendek. Tapi setelah itu Genta malah diem, matanya ke luar jendela, tapi jelas bukan beneran lihat apa-apa.
Dari depan kelasnya, dia sempat melirik ke arah kelas Jiaya. Posisinya kelihatan jelas dari koridor. Bangku di sebelah jendela—tempat yang selalu dia pilih karena katanya "biar bisa liat awan kalau lagi bosen."
Biasanya ada dua tas di situ: tas hitam Jiaya, dan tas krem Risa yang selalu kebuka resletingnya.
Sekarang cuma satu.
Kursi di sampingnya kosong.
Entah kenapa, pemandangan itu bikin dada Genta agak sesak.
Sisa jam pelajaran dia nggak bisa fokus. Guru ngomong apa, papan tulis nulis apa, semua lewat gitu aja. Otaknya sibuk sendiri.
Sakit?
Kenapa nggak bilang?
Kemarin malam masih aktif bareng dia, kan...
Tangannya tanpa sadar muter pulpen pelan, sampai akhirnya pulpen itu jatuh dari meja.
Ijo nengok.
"Lu kenapa sih dari tadi?"
"Gak kenapa-kenapa."
Padahal jelas kenapa-kenapa.
Pas bel istirahat, Genta langsung keluar kelas. Langkahnya santai, tapi arahnya jelas ke koridor kelas Jiaya.
Risa juga baru aja keluar, bawa botol minum. Belum sempat Genta ngomong, Risa udah kaget duluan.
"Anjir kaget!"
"Jiaya kemana?" tanya Genta langsung. Nadanya datar, tapi matanya jelas nyari jawaban.
Risa mengernyit.
"Sakit. Lo nggak tau dia sakit?"
"Enggak."
"Katanya sih demam dari semalam. Mungkin kecapekan juga."
Kalimat itu bikin Genta diam sebentar. Rahangnya sedikit mengeras, tapi dia gak ngomong apa-apa.
Risa ngelirik Genta dari atas ke bawah, lalu nyengir tipis.
"Tumben lo nanya. Biasanya juga pura-pura cuek."
Genta mendengus pelan.
"Biarin."
Dia langsung jalan ninggalin Risa di lorong.
Risa ngeliatin punggung cowok itu, lalu geleng kepala sambil senyum kecil.
"Cowok drama," gumamnya, ngulangin kata yang Jiaya pernah pakai dulu.
Genta akhirnya duduk sendirian di ujung bangku koridor yang sepi. Tangannya mainin HP, tapi layar cuma nyala-mati tanpa tujuan. Dia buka chat Jiaya.
Terakhir: semalam.
Sticker kucing yang Jiaya kirim sebelum tidur.
Genta menatap layar itu beberapa detik lama.
Jempolnya sempat ngetik:
"Udah minum obat?"
Dia berhenti. Menghapus lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
