Sepi

890 132 11
                                        

HARI GRADUATION SMA — SORE

Halaman sekolah sudah dipenuhi suara kamera, tawa teman, dan selamat-selamat yang terucap berkali-kali. Spanduk besar bertuliskan Selamat Wisuda Angkatan Tahun Ini tergantung di lapangan. Rumput tampak rata karena diinjak banyak kaki—sepatu hitam, heels, sneakers yang tak sempat dibersihkan pagi tadi.

Jiaya berdiri di samping mama Jeny yang datang khusus untuk hari ini. Wanita itu memegang buket bunga mawar putih kecil, wajahnya berseri penuh bangga.

"Kamu cantik sekali, Jiaya," ucap mama Jeny sambil sedikit merapikan syal tipis yang dipakai Jiaya. Suaranya lembut, penuh rasa syukur. "Mama bangga banget sama kamu."

Jiaya tersenyum malu. "Makasiih, Ma... lebay."

Mama Jeny hanya tertawa dan mencubit lengan anaknya pelan.

Tidak jauh dari mereka, Genta berdiri di tepi lapangan. Kemeja putih digulung sampai lengan, dasi dibiarkan longgar. Dia tidak menyatu dalam keramaian, tapi ia tidak terlihat canggung—lebih seperti seseorang yang sengaja memberi ruang pada orang yang ia jaga dari jauh.

Namun tatapannya tidak pernah lepas dari Jiaya. Jiaya berjalan ke arahnya setelah mama Jeny dipanggil guru lama untuk berbincang.

"Kamu udah lama nunggunya?" tanya Jiaya sambil menahan sedikit tawa.

Genta mengangguk, suaranya tenang. "Lumayan. Tapi nggak apa."

"Maaf ya, tadi sempet foto kelas dulu."

"Nggak masalah."

Sebelum mereka bicara lebih jauh—

"JIAAAA!! CEPET SINI!!"
Risa melambai seolah mengibarkan bendera perang.

Ijo sudah jongkok di depan, mencoba mengatur tripod butut milik sekolah. Reza berdiri di sampingnya, wajahnya pasrah. Jevan sedang ribut sendiri karena jasnya kepanjangan.

Jiaya menoleh ke Genta, tersenyum.

"Aku ke sana bentar."

Genta mengangguk kecil. "Gua ikut."

Mereka berjalan bersama. Tidak berpegangan, tapi jarak itu jelas memberi tahu banyak hal yang tidak perlu diucapkan.

Saat sampai, Ijo langsung berseru dramatis, "Jia, sumpah ya lu hari ini kayak pemeran utama drama akhir tahun."

Risa mengangguk dengan semangat berlebihan.
"Liat nih, glowing! Aura wisudawannya beda!"

Reza memberikan buket bunga kecil buatan sendiri—dengan pita yang sedikit miring."Selamat ya, Jiaya dan Risa. Kita bertahan sama tugas, guru killer, dan jam piket."

Jiaya menerima dengan kedua tangan. "Iya, terima kasih banget."

Baru setelah itu mereka menyadari Genta berdiri sedikit di belakang.
Tidak masuk.
Tidak mengganggu.
Hanya ada.

Ijo menyipitkan mata dramatis.

"GUA TAU AURA-AURA KANG NGEJEMPUT NIH."

Risa langsung cengengesan. "Fix relationship yang nggak diumumin tapi semua orang tau."

Jiaya langsung menunduk, wajahnya merah. Genta cuma menoleh sedikit—dan senyum tipis, kecil, nyaris tak terlihat—muncul. Bukan senyum sombong. Tapi iya, dan gue nggak perlu klarifikasi.

"Udah, ayo foto!" seru Risa.

Mereka berbaris, saling merangkul, saling dorong, saling teriak. Sebelum kamera dijepret, Jiaya sempat menoleh sekilas. Genta menghampiri serta berdiri di sampingnya. Dan Jiaya tersenyum.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang