Genta berdiri di depan cermin besar kamar hotel, merapikan setelan jas hitam yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Malam itu ia menghadiri acara penghargaan nasional bidang industri dan konstruksi, mewakili posisi Ayahnya—posisi yang sejak satu bulan terakhir secara resmi ia emban sementara. Arka sudah kembali ke luar negeri, tempat istri barunya dan anak-anak mereka tinggal, sehingga mayoritas tanggung jawab perusahaan di Jakarta kini berada di punggung Genta.
Di sampingnya berdiri Vika—perempuan yang awalnya melamar sebagai sekretaris pribadi Arka, namun karena perubahan struktur, akhirnya diarahkan mendampingi Genta untuk sementara waktu. Seragam kerjanya berganti menjadi evening dress hitam sederhana, rambut disanggul rapi, clipboard digital tetap di tangannya seakan ia tidak pernah melepaskan peran administratifnya meski suasananya formal dan mewah.
"Sudah siap, Pak?" tanya Vika sopan ketika pintu ballroom mulai dibuka untuk tamu undangan.
Genta sempat meliriknya sebentar, ekspresinya datar tapi tidak dingin. "Kita masuk aja. Dan Vika..."
"Iya, Pak?" jawabnya cepat—refleks, karena mereka tidak sedang di ruang publik.
"Tolong jangan jauh dari saya, saya belum hafal semua tamu undangannya."
Vika mengangguk kecil. "Siap."
Begitu mereka memasuki ballroom, lampu kristal yang menggantung.
Acara penghargaan baru saja selesai, tamu-tamu mulai bergerak meninggalkan ruangan menuju lounge dan lobby. Lampu kristal menggantung megah, dan suara obrolan formal masih terdengar di udara. Genta berjalan santai namun tetap menjaga sikap profesional, sementara Vika berada setengah langkah di sampingnya — clipboard dan ponsel kerja selalu siap di tangan.
Di area lobby, seorang pria bule berperawakan tinggi dengan setelan abu metalik menghampiri mereka. Dari badge namanya, tertulis "Mr. Juan – CEO, GAIA International Construction". Ia tersenyum ramah.
Vika lebih dulu menyadarinya, lalu memberi kode halus pada Genta. Dengan senyum profesional, ia langsung menjalankan tugasnya:
Vika, "Good evening, Sir. This is Mr. Genta, managing representative for tonight's event. May I help you?"
Pria itu mengulurkan tangan dengan antusias.
"Ah, Mr. Genta, finally! I've been wanting to greet you. Your speech was remarkable — confident, clear, and very strategic. Quite impressive for someone your age."
Genta menerima jabatan tangan itu dengan mantap, senyumnya tipis namun sopan.
"Thank you, Sir. It's an honor, though I'm still learning. I appreciate your words."
"Humility and skill — good combination. I see potential. I would love to schedule a meeting with your company soon, perhaps discuss collaboration opportunities."
Vika langsung mencatat sambil tersenyum baik. "Certainly, Sir. I will arrange the schedule and send your office our availability through email. Would you prefer morning or afternoon slots?"
"Afternoon would be great, Miss...?"
"Vika. I'm Mr. Genta's secretary."
"Perfect. I look forward to hearing from you, Miss Vika. And Mr. Genta — well done tonight. Keep that fire."
Setelah pria itu melangkah pergi, Vika menatap Genta pelan, sedikit bangga.
"Pak... that was a really good impression. Bapak berhasil bikin mereka ngelirik."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
