Bel tanda pelajaran berbunyi, satu kelas mulai sibuk, tapi Genta tetap diam. Hanya menatap jendela yang sebagian kacanya buram, seolah di sana ada sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya sebentar.
Ijo menepuk pelan meja sahabatnya sebelum guru masuk. "Kalau lu butuh, gua di belakang, Ta."
Genta cuma ngangguk tanpa menoleh. Tapi dari caranya menghela napas, Ijo tahu — sahabatnya dengar, dan itu cukup. Hari itu berjalan pelan. Genta kembali ke sekolah, tapi sebagian dirinya masih tertinggal di tempat lain — di titik antara kehilangan dan penerimaan.
Sepanjang pelajaran, Genta lebih banyak diem. Kadang nulis, kadang bengong liatin jendela. Gak ada yang aneh, tapi keliatan kalau pikirannya gak sepenuhnya di kelas.
Pas istirahat, Ijo nongol di sebelahnya bawa dua teh botol.
"Masih doyan, kan?"
Genta nengok sekilas, terus ambil satu. "He'em."
Mereka duduk di kantin tanpa banyak ngomong. Ijo tau kapan harus diem, dan Genta gak butuh basa-basi. Kadang Ijo nyeletuk hal receh, kayak gosipin anak kelas sebelah atau ngomongin guru yang typo di papan tulis, dan Genta cuma senyum tipis sambil ngunyah gorengan.
Pas mau balik ke kelas, Genta sempet berhenti di tangga, ngeliatin lapangan sebentar. Ijo ikut berdiri di sampingnya.
"Capek?" tanya Ijo pelan.
"Biasa aja."
"Lu kalo butuh cerita, gua ada."
Genta ngangkat alis dikit, terus nyengir kecil. "Cerita apaan. Gua baik-baik aja."
"Yaudah. Gua cuma ngingetin doang."
Mereka jalan lagi bareng ke kelas. Dari luar semuanya keliatan sama aja, cuma Genta sekarang sedikit lebih tenang. Masih dingin, masih cuek, tapi gak seberat minggu lalu.
Kantin siang itu agak ramai. Suara baki beradu, tawa anak-anak, dan aroma nasi goreng dari pojok kanan bercampur jadi satu. Jiaya baru aja duduk setelah ambil minuman, matanya refleks menelusuri arah biasa — tempat Genta sama gengnya sering nongkrong. Dan di sana, dia liat cowok itu. Duduk nyandar di kursi, sendok di tangan, ketawa kecil waktu Ijo nyeletuk sesuatu. Masih sama kayak dulu — jaket abu kusut, rambut acak-acakan, tapi kali ini matanya gak sekelam terakhir kali mereka ketemu.
Ada sesuatu di dada Jiaya yang tiba-tiba ngendur.
Entah kenapa, cuma ngeliat Genta ada di sana aja udah cukup bikin hatinya tenang.
"Eh, itu Genta, kan?" bisik Risa di sebelahnya. "Kirain dia ga masuk lagi."
Jiaya pura-pura sibuk buka sedotan. "Iya."
Risa melirik lagi, lalu senyum jahil. "Lu lega, ya?"
Jiaya cuma menggeleng, tapi senyum kecil di bibirnya gak bisa disembunyikan. "Biasa aja kok," jawabnya pelan, padahal matanya masih ngikutin Genta diam-diam.
Dari kejauhan, Genta sempat menoleh sebentar. Pandangannya gak lama, cuma sepersekian detik — tapi cukup buat Jiaya langsung nurunin tatapan, pura-pura sibuk buka bekal.
Jiaya sadar kalau udah kelamaan ngeliatin, tapi matanya nggak mau lepas. Ada sesuatu yang beda — Genta keliatan tenang, tapi juga lelah. Kayak ada yang disembunyikan di balik tatapan datarnya itu.
Dan pas dia sadar, Genta tiba-tiba ngangkat wajah.
Pandangan mereka ketemu. Genta nggak ngomong apa-apa, cuma menaikkan satu alisnya pelan, ekspresinya datar tapi jelas: ketahuan, ya?
Jiaya langsung kaget, hampir aja nyenggol sendoknya sendiri. Tapi bukannya nunduk, dia malah geleng kecil, senyum kikuk. Tapi tatapannya nggak bisa pergi juga..
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
