imy

718 101 16
                                        

toxiclove

Ruang Kerja Genta

Lampu meja saja yang menyala. Di depan laptop, Genta menatap layar tanpa kedip—berita mengenai Jiaya memenuhi timeline media sosialnya. Foto-foto, komentar publik, dan spekulasi gosip berulang muncul di layar. Jarinya berhenti scroll. Rahangnya mengeras, tapi wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Suara tiba-tiba terdengar dari belakang kursinya.

"Bang, masih kangen ya?"

Genta tidak langsung menoleh, hanya menghela napas pendek.

"Ngapain sih ngagetin?"

"Loh, nggak ngagetin. Saya dari tadi di sini, Pak."
Haje menunjuk sofa kecil di sudut ruangan.

Genta menutup layar laptop, mengusap wajah seperti ingin menutup emosi maupun pikirannya.

"Ya udah... jadi kamu mau bahas apa?"
Nada datarnya terdengar seperti profesional, bukan personal.

Haje tersenyum kikuk, lalu maju ke arah meja Genta. "Saya mau ngomong sesuatu. Saya... mau nikahin Rara."

Kursi Genta berhenti bergerak—ia menatap Haje, tidak marah, hanya terkejut. Ekspresi matanya sedikit membesar, tapi tetap terkendali.

"Lu yakin, Je?"

Tanpa ragu, Haje langsung menjawab. "Yakin seribu persen, Bang. Gue gak mau Rara diambil orang lain."

Genta bersandar, kedua tangan disilangkan. Tatapannya berubah lebih serius namun hangat sebagai seorang abang sekaligus atasan. Genta akhirnya berdiri, berjalan pelan ke arah jendela. Tangannya masuk ke saku celana, pandangannya jatuh pada lampu-lampu kota yang berpendar di luar sana.

"Jevan udah nikah... Ijo dikit lagi resepsi... lu mau nikah... habis ini siapa lagi?"

Ada jeda — bukan cemburu, bukan iri, tetapi rasa sepi yang singgah sebentar.

Haje tersenyum tipis, lalu mendekat. "Bang, tiap orang punya waktunya masing-masing. Mungkin waktunya abang belum di situ."

Genta tidak membantah, hanya menghembuskan napas panjang. "Gue bukannya gak mau, Je... gue cuma... gak mau salah langkah lagi."

"Justru karena abang pernah jatuh, abang lebih siap dari kebanyakan orang."

Genta menatap Haje—tatapannya tidak rapuh, hanya penuh perhitungan dan pengalaman.

"Ya udah, kalau lu yakin... gua restuin. Tapi jangan main-main. Nikah itu bukan sekadar status."

"Siap, Bang. Itu juga yang mau gue jaga."

Belum lama setelah Haje keluar ruangan, ponsel Genta bergetar. Nama "Ijo" muncul di layar. Genta menghela napas kecil sebelum mengangkat.

"Ta, cekin dulu nih... undangan nikahan gua udah dikirim. Lu udah terima belum?"

Genta nyender, suara santai seolah dua tahun nggak ngobrol pun tetap nyambung:
"Belum mendarat. Mungkin sinyalnya muter dulu. Tapi iya, udah gua catet tanggalnya."

Ijo ketawa pendek — ketawa orang yang tau semua luka dan joke internal:
"Oke. Gua cuma pastiin. Lu harus dateng, Ta. Lu udah pernah absen di terlalu banyak momen penting hidup orang."

Genta terdiam sepersekian detik — bukan tersinggung, tapi karena kena. Ia tahu Ijo selalu ngomong jujur, bahkan yang tidak enak sekalipun.

"Gua dateng, Jo. Nggak pake hilang. Tenang."

"Good. Gua gak butuh hadiah. Cukup lu duduk di barisan temen dekat. Gua seneng liat lu ada... itu aja udah cukup."

Genta terkekeh tipis,

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang