Pagi itu cahaya matahari masuk pelan lewat tirai yang belum tertutup sempurna.
Kepala Jiaya berat, pusing, dan matanya masih setengah terpejam. Begitu dia sadar, posisi tidurnya aneh — di kamarnya memang tapi bukan di kasur. Tapi di atas tubuh Genta. Dan orangnya masih tidur lelap. Yang aneh, ada beberapa bercak merah di leher cowok itu.
"...Genta?" suaranya serak berusaha nahan kagetnya.
Cowok itu masih pules, kaosnya kusut, rambutnya acak-acakkan. Sekilas, Jiaya ngerasa deg-degan — bukan karena takut, tapi karena dia bener-bener gak inget apa yang terjadi semalam.
Ia nunduk, nyoba nginget-nginget. Cuma potongan-potongan: tawa, musik, suara air, dan cahaya lampu pesta.
Setelah itu... gelap.
Jiaya turun dari tubuh Genta dan kasur lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi dan memikirkan apa yang terjadi. Tapi tetap tidak ingat apa-apa. Saat akan berkaca dia bersyukur tidak ada tanda-tanda ia punya tanda yang sama. Tapi saat membuka baju dia kaget.
"What the fuck! Why is my ninip so red?!"
.
.
.
Aroma roti panggang dan kopi udah memenuhi ruang makan. Anak-anak lain udah duduk, sebagian masih ngantuk berat, sebagian lagi sibuk scroll HP. Jiaya duduk di pojokan meja, sibuk ngaduk jus jeruk yang udah dari tadi gak diminum. Matanya kosong, tapi sesekali melirik ke tangga. Entah nunggu siapa. Entah berharap gak liat siapa.
Suara langkah pelan menuruni tangga bikin semua kepala refleks nengok.
Genta. Rambutnya masih agak berantakan, tapi tatapannya udah sadar penuh.
Dia jalan santai, tangan masuk kantong, dan begitu pandangannya nemu Jiaya — sudut bibirnya terangkat sedikit.
Smirk.
Bukan senyum ramah, bukan juga senyum basa-basi. Tapi yang jelas cukup buat Jiaya nunduk cepet-cepet.
Dari seberang meja, Risa ngeliatin dua-duanya gantian, alisnya naik.
"Kenapa nih, suasananya beda banget. Ada yang mau klarifikasi sesuatu, gak?"
"Apaan sih," Jiaya pura-pura cuek, ngeraih roti. Tapi tangannya sempat gemetar dikit.
Reza yang lagi ngunyah cereal nyaut santai, "Kayak abis rahasiaan semalam."
Genta cuma nyengir tanpa niat bantah, sementara Jiaya ngedengus, "Diam lo, Za."
Suasana ruang makan masih riuh, tapi mulai santai. Beberapa udah kelar makan dan ngeloyor ke teras, sebagian lagi sibuk beresin piring.
Tiba-tiba Genta nyeletuk dari kursinya, nada suaranya datar tapi cukup bikin semua nengok,
"Eh, ada P3K gak di sini?"
Ijo yang lagi minum jus langsung ngangkat alis.
"P3K? Ada tuh, deket dapur. Kenapa lu?"
Genta nyengir dikit, ngeraba bagian lengannya yang kelihatan sedikit merah.
"Gapapa, cuma memar dikit."
Nadanya santai, tapi matanya... gak ke siapa-siapa.
Lebih tepatnya — ke arah Jiaya.
Jiaya yang lagi minum air langsung berhenti di tengah tegukan. Tatapan mereka cuma ketemu sepersekian detik sebelum Jiaya buru-buru nunduk. Tangannya ngegenggam gelas kuat-kuat, matanya gak fokus, otaknya berusaha keras nginget sesuatu — tapi kosong.
"Lu kenapa, Ji?" bisik Risa dari samping.
"Eh... enggak, gak kenapa-kenapa kok," jawabnya cepat, senyum tipis tapi kaku.
Sementara itu Genta udah bangkit dari kursi, jalan santai ke arah dapur.
Tapi sebelum ngilang di balik tembok, dia sempet noleh sebentar, lirikan sekilas yang entah artinya apa. Sambil nge-wink.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
Genç Kız Edebiyatı"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
