Hasutan

925 110 7
                                        

PAGI – RUMAH JIAYA

Rumah sepi, hanya suara kulkas berdengung. Jiaya baru selesai menyisir rambut basahnya, kaos oversized dan celana pendek rumah. Genta duduk di sofa, nyender santai sambil scroll HP, wajah masih agak ngantuk tapi nyaman.

Tiba-tiba bunyi motor dan langkah kaki ramai di luar pagar.
Lalu suara paling nyaring duluan.

"JIAAAA OPEN THE DOOOOR GUE LAPER!!!"

Itu jelas Risa.

Disusul suara lain, lebih santai tapi sok keren.
"Mungkin dia belum bangun kali, Ris. Chill." Itu Jevan.

Dan setelahnya:
"Ah udah gedor aja. Kalo rusak, tanggung bareng-bareng." Reza, tentu saja.

Genta dan Jiaya saling pandang sebentar. Jiaya cuma menghela napas. Genta berdiri buat buka pintu. Begitu pintu kebuka...

Risa langsung masuk paling dulu, rambut dikuncir tinggi, ekspresi kepo maksimal.
"Heh Ji, kita udah dateng ya langsung ya. Jangan kaget."

Jevan melangkah pelan dengan hoodie setengah terbuka, gaya I'm too cool for all of you, padahal bangun tidur baru 10 menit lalu.
"Yo."

Reza masuk tanpa permisi seperti rumah neneknya sendiri.
"Gue masuk ya. Udah biasa."

Ijo masuk paling belakang, wajah datar seperti hidupnya default mode lelah.
"Jam segini rame amat."

Haje nyelip dari belakang Ijo, bocil SMA, cerewet, dan entah kenapa selalu keliatan siap berantem.
"Halo Jiaya lihat aku tumbuh tinggi satu centimeter!"

Jiaya langsung senyum karena kaget tapi senang.
"Pagi semuanya..."

Mereka masuk dapur bareng. Suasana langsung rame. Risa duduk di kursi dan langsung memperhatikan Jiaya dengan mata menyipit dramatis.

"Ji. Lu keliatan... beda."

Jevan nyengir. "Glow up habis pelukan panjang ya?"

Jiaya refleks menunduk, pipinya memerah malu.

Reza mencondongkan badan ke meja.
"Gue cuma mau nanya satu hal penting dan mendesak."

Semua perhatian otomatis ke Reza.

"Lu udah keramas belum?"

Jiaya bercanda, "Udah."

Reza mengangguk puas, sok bijak.
"Bagus. Soalnya kalo abis 'quality time' trus tidur tanpa keramas tuh aromanya—"

Genta langsung menyikut perut Reza pelan tapi efektif. "OI sakit nj— yaudah gue diem."

Risa menepuk meja, excited.
"YA AMPUN KALIAN BENERAN JADI. AKHIRNYA. GUE TAHU GUE BAKAL HIDUP CUKUP BUAT LIAT INI TERJADI."

Jevan tertawa kecil.
"Congrats bro, gol juga akhirnya."

Genta cuma geleng pelan. "Gila."

Haje naik ke kursi supaya tinggi, menunjuk keduanya seperti jaksa sidang.
"Tolong jangan putus ya. Soalnya kalo putus nanti aku ikut yang mana?"

Ijo akhirnya duduk dan minum air yang entah darimana dia ambil.
"Gue baru duduk, dan ini sudah chaos. Fantastis."

Semua tertawa.

Suasana hangat.

Risa masih heboh sendiri, sementara yang lain udah mulai nyebar di dapur. Genta duduk di samping Jiaya, tangan mereka kadang bersentuhan tanpa sadar. Jevan dan Reza rebutan roti. Ijo sibuk ngemil tanpa bicara. Haje sibuk naik turun kursi seperti trampolin kecil.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang