Putus

3.2K 252 15
                                        

Warkop Bu Jum di belakang sekolah siang itu lagi ramai-ramainya. Suara kipas angin butut yang berderit nyaring bersahutan dengan gelak tawa anak-anak tongkrongan. Tapi suasana ceria itu mendadak suram waktu deru mesin R1M hitam yang suaranya paling galak berhenti tepat di depan.

Genta turun dari motornya. Dia nggak langsung masuk, tapi melepas helmnya dengan gerakan kasar seolah benda itu baru saja nyekik dia. Wajahnya ditekuk, rahangnya mengeras, dan matanya merah kayak orang yang sudah berhari-hari perang sama pikirannya sendiri.

"Eh, kasep... nembe uih sakola? (Eh, ganteng... baru pulang sekolah?)" sapa Bu Jum dengan logat Sunda kentalnya sambil ngerapiin toples kerupuk. "Biasa, kasep? Kopi?"

Genta cuma mengangguk singkat tanpa suara, bahkan nggak sanggup buat sekadar senyum tipis ke nenek-nenek yang biasanya dia hormati itu.

Dia menghempaskan tubuhnya di bangku panjang, tepat di sebelah Ijo dan Jevan yang lagi asyik main game. Aura di sekitar Genta mendadak jadi mencekam, bikin Ijo refleks menghentikan jemarinya di layar karena ngerasa ada tekanan udara yang beda.

Ijo melirik Jevan sekilas, lalu beralih ke Genta yang sekarang sibuk menyalakan pemantik. Tangannya sedikit gemetar, butuh tiga kali percobaan sampai apinya nyala.

"Kenapa lu? Kusut bener itu muka," tanya Ijo hati-hati.

Genta menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya kasar ke udara. "Gapapa."

"Halah, 'gapapa' nya lu itu berarti ada apa-apa," sahut Jevan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Dia tertawa kecil, tipe tawa yang biasanya cukup untuk memancing emosi Genta. "Cewek ya, Ta? Jiaya?"

Genta yang tadinya diam saja, tiba-tiba menggebrak meja kayu di depannya. BRAK!

Gelas kopi plastik milik Ijo sampai sedikit melompat dan isinya muncrat ke meja.

"Nggak semua hal di hidup gua itu tentang cewek itu!" bentak Genta. Suaranya rendah tapi penuh penekanan yang bikin Jevan langsung menoleh kaget dan mematikan ponselnya. "Nggak usah sok tau lu. Gua lagi males denger bacotan lu."

"Astagfirullah, kasep... kunaon atuh meuni galak kitu? (Astagfirullah, ganteng... kenapa sih galak banget gitu?)" Bu Jum nyaut dari balik etalase sambil naruh kopi hitam panas di depan Genta. "Ieu kopina, sing sabar nya... (Ini kopinya, yang sabar ya...)"

Jevan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Gua cuma nanya, sensi amat kayak pantat bayi."

"Bisa diem nggak?" Genta membuang muka, matanya menatap lurus ke arah jalanan dengan pandangan kosong.

Sebenarnya, pikirannya sama sekali bukan tentang Jiaya atau Keno. Di saku jaketnya, ponselnya terus bergetar memberikan notifikasi dari grup keluarga yang sengaja dia abaikan. Tapi Genta tetaplah Genta — dia lebih milih kelihatan kayak singa yang lagi marah daripada harus kelihatan lemah di depan teman-temannya.

Kopinya nggak disentuh. Dia cuma diam, tenggelam dalam asap rokok dan rasa pusing yang terus dihantam beban di dadanya.

Genta masih mematung dengan rokoknya sampai suara bising motor-motor lain terdengar berhenti di depan warkop. Nggak lama, muncul tiga orang yang langsung bikin suasana warkop makin penuh.

Ada Haje, adik kelas beda sekolah yang gayanya masih pecicilan kayak bocah. Terus ada Kuta, alumni asli Bali yang pembawaannya tenang dan paling dewasa di antara semuanya, bareng sama Cayo yang sebenernya juga dewasa tapi otaknya rada sengklek dan suka nggak nyambung kalau ngomong.

"Wuidih, rame bener! Bu Jum, es teh manis satu, gulanya dikit aja biar nggak manis kayak janji mantan!" seru Haje sambil nyelonong duduk di sebelah Genta tanpa baca situasi.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang