Drama

871 131 12
                                        

Pagi itu udara masih dingin, embun belum sepenuhnya mengering dari rumput. Jalan setapak kecil menuju lapangan terlihat sama seperti dulu: tenang, hijau, sepi. Racquel dan Jiaya berjalan berdampingan dengan tangan di saku jaket masing-masing. Napas mereka terlihat tipis-tipis seperti asap karena udara dingin. Lapangan itu sendiri tidak banyak berubah. Ayunan yang dulu sering macet rantainya masih berdiri di tempat yang sama. Pohon-pohon besar tumbuh lebih tinggi, tapi bentuknya tetap bisa dikenali. Jiaya memandangi sekeliling dengan tatapan yang lambat dan hati-hati, seolah ia sedang menyentuh memori yang sudah lama diam.

"Dulu kamu selalu main ke sini tiap pagi," ujar Racquel tanpa menoleh.

"Aku hampir nggak inget detailnya," jawab Jiaya pelan. "Cuma rasanya masih kebayang."

Racquel hanya mengangguk kecil, sebelum pandangannya terarah ke bangku kayu di sisi lapangan.

Seseorang sudah duduk di sana.

Leo.

Ia mengenakan hoodie abu-abu muda, duduk dengan punggung sedikit bersandar, satu kaki disilangkan santai, tangan masuk ke kantong. Ia tidak sedang main ponsel, tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan melihat lapangan, seolah ia sudah berada di sana cukup lama.

Racquel berhenti berjalan dan berbisik pendek tanpa drama berlebihan.

"Dia selalu datang pagi. Dulu juga."

Jiaya mengangguk pelan lalu berjalan mendekat. Leo menoleh ketika mereka sampai, matanya tenang, tidak kaget dan tidak dibuat-buat.

"Pagi," ucapnya.

"Pagi," jawab Jiaya.

Racquel menyahut lebih casual, "Pagi," sebelum ia dengan sengaja meninggalkan keduanya dan berjalan menuju ayunan.

Leo berdiri sebentar, hanya untuk memberi ruang, lalu duduk kembali. Gerakannya tanpa usaha berlebihan, tanpa kecanggungan. Jiaya ikut duduk di sebelahnya, menjaga jarak yang nyaman.

Lapangan di depan mereka diam. Hanya suara angin yang terdengar.

"Kamu dulu sering banget ke sini," kata Leo, matanya tidak lepas dari ayunan yang bergerak pelan tertiup angin. "Hampir tiap hari pagi. Kadang sebelum sarapan."

Jiaya menarik napas pelan. "Aku nggak ingat semuanya."

Leo mengangguk, tidak kecewa. "Wajar."

Jawabannya sederhana. Tidak menyalahkan. Tidak menuntut. Hanya fakta yang tenang.

Jiaya menatap rerumputan yang basah. "Aku juga nggak yakin waktu itu bakal balik."

"Tapi kamu balik," ucap Leo pelan, nada suaranya datar tapi tidak dingin.

Jiaya mengangguk. "Iya."

Mereka diam sebentar. Bukan diam yang berat, hanya diam karena dua orang tidak merasa perlu memaksa percakapan.

Racquel sesekali terdengar tertawa pelan di ayunan, tapi tidak mengganggu apa pun.

Leo menundukkan kepala sedikit, seperti sedang mengingat sesuatu yang jauh. "Dulu kamu pernah bilang kalau kamu nggak mau lupa tempat ini." 

Jiaya tersenyum tipis, bukan senyum besar, hanya gerakan kecil yang muncul dari rasa yang lembut. "Kayaknya aku memang nggak lupa. Cuma... bentuknya berubah."

Leo menyandarkan tubuh sedikit ke belakang. "Semua orang berubah."

Jiaya menunduk, senyum tipisnya mengembang sedikit. "Aku juga senang bisa ketemu kamu di sini... walaupun cuma sebentar."

"Sebentar aja?" Leo menoleh, matanya menatap Jiaya tanpa ekspresi berlebihan. "Kamu mau pulang?"

Jiaya mengangguk, sedikit ragu. "Iya... aku nggak mau lama-lama. Rasanya nggak enak, Racquel juga nungguin aku. Lagian aku masih harus urus belanjaan tadi."

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang