Assalamu'alaikum semuanya?
Bagaimana kabarnya?
Ak u datang lagi nih, jangan lupa Vote komen dan follow aku
Happy reading 💕
|
•
|
•
|
•
|
Naira meringis pelan. Aluna dan yang lainnya menatap dirinya kasian. Tapi tidak dengan seorang pria di sudut kantin itu, dia marah, tangannya mengempal sempurna.
"Van Lo kenapa?" Tanya Angga
Revan tak menjawab pertanyaan itu, dia masih saja melihat drama itu dengan sorotan mata yang tajam.
"Lo apa-apaan sih kak" teriak Gwen marah, tapi dirinya langsung di dorong oleh Rena.
Naira yang melihat temennya itu disakiti, menggeram marah.
"CUKUP!!" teriaknya cukup keras.
"Aku diam bukan berarti aku takut sama kakak. Aku diam karna aku masih menghargai kakak sebagai kakel disini. Tapi jika kakak berbuat kasar, aku juga bisa. Namun, aku ngga mau menambah dosa, cuma buat membalas perbuatan kakak yang lebay ini" geram nya menahan amarah yang ingin keluar. Di dalam hatinya, dia terus beristighfar.
Revan masih memperhatikan drama itu, hingga akhirnya dia langsung berlari ketika melihat salah satu tangan itu melayang.
"Lahh.. lahh tuh anak mau kemana?" Tanya Septi lalu ikut berlari menyusul Revan.
"LO!!!" teriak Angel menggeram marah. Tangannya siap melayang menampar pipi mulus Naira, Naira yang melihat itu memejamkan matanya erat-erat.
Belum sempat tangan Angel mengenai pipi Naira, tangan kekar seseorang lebih dulu menahannya.
Dia menatap Angel dingin.
Naira yang tak merasakan apa-apa pun langsung membuka matanya, dia kaget melihat tangan seseorang menahan tangan Angel. Dengan gerakan pelan, dia menoleh ke arah pemilik tangan itu.
"Ka-kak Re-van?"cicitnya pelan.
Revan yang mendengar suara itu langsung menghempas tangan Angel. Dia langsung membuka baju seragam yang dipakainya itu, menyisakan kaos hitam polos yang membentuk tubuhnya itu. Revan menghampiri Naira dan memakainya seragamnya ke tubuh Naira yang sudah basah itu. Dia tak rela tubuh gadis itu di nikmati banyak mata keranjang.
Tanpa berucap apapun, dia langsung menarik tangan Naira yang dilapisi seragamnya itu. Dia tau, perempuan seperti Naira tidak mau sembarangan disentuh.
Kedua berhenti tepat di depan toilet, "masuk" titah Revan.
Naira yang tak paham pun menyergit bingung.
"Masuk, bersihin badan lo. Gue mau ke loker ambil baju buat Lo" meskipun itu kalimat yang terpanjang yang pernah diucapkan Revan, tapi tetap saja suaranya itu dingin.
Revan langsung meninggalkan Naira tanpa menunggu jawaban darinya, Naira menggerutu pelan melihat sikap Revan yang kelewatan dingin itu, "dasar es balok, pengen rasanya aku panasin, biar mencair".
Naira masuk ke kamar mandi cewek, tak lama kemudian, terdengar pintu yang di ketuk dari luar,
"Nai, ini baju buat Lo yang di titipin kak Revan" teriak seseorang dari luar sana, seperti suara Aluna.
Naira membuka pintunya sedikit, lalu mengeluarkan sedikit tangannya. Naira langsung menggantikan baju yang barusan diambilnya itu.
Terdengar suara cekikikan setelah Naira keluar dari kamar mandi itu, bajunya kebesaran. Dan itu sukses membuat Aluna tertawa. Bibir Naira mengerucut sebel.
KAMU SEDANG MEMBACA
VANRA {TERBIT}
Teen Fiction"kita dipertemukan bukan untuk dipersatukan" Sabilla Naira Arumi "Terimakasih telah hadir, walaupun bukan takdir" Revano Putra William LENGKAP VERSI WATTPAD Rank🏅 #1 in Septi /12-5-22 #1 in Hijabers/23-6-22 #1 in Naira /2-7-22 #1 in Islami /28-8-2...
