TIGA PULUH TUJUH (37)

603 48 12
                                        

  

ASSALAMU'ALAIKUM YUHHHHUUUU

BAGAIMANA KABARNYA HARI INI?

SEMOGA HAPPY SELALU

AKU BALIK LAGI NIH, SEMOGA AJA PADA NUNGGUIN YA

MARI VOTE KOMEN DAN POLLOW DULU BARU LANJUT BACA

Oh iya, bantuin share cerita ini juga ya sama besti-besti kalian hihi

Happy reading cantik, ganteng

|
|
|
|
|
|
|

"Jangan takut kehilangan, karena sejatinya hidup adalah tentang kembali ke pelukan Tuhan"

       Dengan cepat Revan segera mengendarai motornya. Ia benar-benar panik sekarang.

"Kita gatau kan siapa duluan yang pergi? Bisa jadi gue"

Perkataan Septi terngiang-ngiang di pikiran Revan. Ngga ga mungkin Septi pergi, pasti ia selamat.

Revan tidak memperdulikan pengguna jalan lain mencaci maki dan mengatainya yang ia pedulikan saat ini adalah bagaimana secepatnya ia sampai di rumah sakit

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk ia sampai di rumah sakit yang Rezi kirimkan. Ia berlari dengan muka yang khawatir dan keringat yang mengalir

"Gimana?" Tanya Revan kepada mereka yang disana

Rezi, Reza dan Angga

Rezi tak hanya mengabarkan Revan, ia juga mengabarkan Reza dan Angga

Mereka semua sontak menggeleng dengan muka yang menandakan kekhawatiran

"Ceritanya gimana?" Tanya Revan mengarah pada Rezi yang mengabarinya

"Gue gatau, tiba-tiba Septi telpon sambil ngomong kesakitan" jawab Rezi

Revan menggeram tertahan. Ia mengusap rambutnya frustasi. Andai ia bisa mencegah Septi untuk pulang, andai ia paham dengan kode yang diberikan Septi. Andai, andai dan andai. Mereka semua hanya bisa berandai-andai

Rezi terduduk lemas di samping pintu ruang operasi, ia sangat merasa kehilangan. Air mata tak kuasa ia tahan, mengalir membasahi pipinya.

Deretan kalimat, kenangan ia dengan Septi terukir indah di pikirannya. Bagaimana tidak? Dia yang paling dekat dengan Septi, ia yang sering adu argumen dengan Septi, ia yang paling mengerti Septi, ia yang tau semua tentang Septi. Tentang kepura-puraan nya tentang kebahagiaan, kegilaannya bahkan canda tawanya

"Yang kuat Zi" tegur Reza yang melihat keadaan Rezi begitu mengkhawatirkan

Hidung merah, mata bengkak bahkan bibir yang tak berhenti bergetar

"Septi bilang dia mau nyusul mama nya Za" ujar Rezi dengan pilunya

Biarlah dia dikatakan cengeng, ia tak memperdulikan itu. Asalkan Septi bisa selamat ia akan melakukan apapun

Reza berjalan kemudian duduk di samping Rezi, menarik pelan bahu Rezi untuk memeluknya

"Septi bakalan baik-baik aja Zi, dia bakalan kumpul lagi sama kita" Reza mencoba menguatkan sahabatnya

"Dia mau jemput kebahagiaan Za, dia mau pergi" dengan mulut bergetar, mata memandang kosong dan air mata yang bercucuran Rezi mengatakan kalimat itu, kalimat yang Septi ucapkan pada dia

"Selama ini dia ga pernah bahagia, dia cuma pura-pura bahagia Za" sambung Rezi

Sontak Revan dan Angga mengalihkan pandangannya ke arah Rezi

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang