LIMA BELAS (15)

1K 74 1
                                        

Taksi yang Naira tumpangi telat berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

"Berapa pak?" Tanya Naira kepada supir taksi itu

"Ongkosnya sudah dibayar oleh calon suaminya neng" ujar supir taksi yang menganggap ucapan Revan itu beneran.

Naira kembali mengingat kejadian tadi, membuat pipinya merah padam.

"Neng?" Tegur supir taksi itu ketika melihat Naira hanya berdiam diri

"Ah iya pak, terimakasih" balasnya kemudian berlalu keluar dari taksi.

Naira segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah yang tertutup.

"Assalamu'alaikum umi" salamnya setelah membuka pintu itu.

"Wa'alaikumussalam, tumben Nai ga teriak" sindir umi yang baru datang dari arah dapur.

"Ya Allah umi, Nai serba salah yah. Giliran teriak dimarahin, ga teriak ditanyain" balasnya seraya menyalami tangan Sarah.

"Umi bercanda kali Nai, ga usah baperan gitu ah"

"Sana ganti baju dulu, terus salat jangan lupa. Baru turun makan" suruh Sarah

"Siap laksanakan umi, eh iya Abi sama abang mana?" Tanyanya

"Bentar lagi juga pulang, cepetan sana ganti baju. Ada yang mau umi sampein nanti"

Dengan segera, Naira berjalan menuju kamarnya, menaruh tas pada tempatnya kemudian berlalu menuju kamar mandi. Setelah selesai berganti baju, dia segera shalat. Sesuai perintah komandannya.

Setelah menyelesaikan shalat, dia bergegas turun menuju umi nya yang sedang menyiapkan makanan.

"Loh Abi? Kok udah pulang?" Tanyanya ketika melihat Abi dan abangnya duduk di meja makan eh kursi maksudnya.

"Emang kenapa? Ga boleh abang pulang cepet?" Ujar Zaki kembali bertanya kepada adiknya.

"Perasaan Nai ngga nanya sama abang deh, kok jadi abang yang jawab" kesal Naira

"Ga usah pakek perasaan dek, yang ada ntar baper"

"Gaje banget abang" Naira berujar sinis kemudian menduduki kursi nya.

"Nyenyenye" ejek Zaki melihat adeknya kesal

"Ada yang ingin Abi sampaikan pada Naira" jawab Abrisam

"Tentang apa Abi? Pasti tentang perjodohan itu kan?" Ucap Naira menghela nafas pelan

"Nanti kita bahas, sekarang makan dulu" Sarah menengahi pembahasan itu.

"Iya umi" jawab mereka bertiga serentak.

"Naira" panggil Abi

Kini keempatnya berada di ruang keluarga setelah selesai makan tadi, untuk berbicara dengan pembahasan yang serius.

"Iya Abi" ujarnya pelan, dia merasa seperti tersangka sekarang

"Seperti yang Nai tadi bilang, Abi ingin membahas tentang perjodohan itu"

"Abi dan umi tidak memaksa Nai untuk menyetujui perjodohan ini. Semuanya tergantung kamu" jelas Abrisam, selaku Abi nya Naira

"Nanti malam, keluarga kita dan keluarga Revan akan bertemu. Pertemuan ini hanya untuk mempererat tali silaturahmi. Tetapi jika kalian menyetujui perjodohan ini, kita akan membahasnya nanti malam. Jadi Abi harap, kamu dan Zaki nanti malam bisa ikut Abi umi menemui mereka" sambung Abi nya lagi.

Naira menghembuskan nafasnya pelan, "iya Abi, Naira nanti malam bakalan ikut Abi dan umi. Tapi untuk masalah perjodohan ini, izinkan Naira untuk berfikir lagi"

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang