"REVAN TURUN CEPETAN" teriak seorang paruh baya dari lantai satu.
Sedangkan yang diteriakin nya itu tak menghiraukan.
"Ya Allah itu anak" desis paruh baya itu penuh emosi.
Dia langsung saja naik ke atas menuju kamar Revan. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung saja masuk ke kamar anak semata wayangnya itu.
"Ck, REVAN BANGUN, BUKANNYA GANTI BAJU MALAH LANGSUNG TIDUR" wanita paruh baya itu berteriak lagi, membuat Revan yang terlelap, kaget seketika.
"Apasih Bun, ngagetin aja" dengus nya sebal.
"Kamu ini, bukannya mandi, ganti baju, ini malah langsung tidur. Kotor banget sih, gimana nanti kalo udah punya istri hah?" Omel bunda Revan dengan berkacak pinggang.
"Lah emang siapa yang mau nikah?" Tanya Revan bingung.
"Ya kamu lah" Bunda Revan, Novi menjawab santai.
"Hah!?" Revan melongo mendengar nya.
"Udah cepetan sana mandi, terus turun buat makan"
"Iya bun iya" jawabnya malas.
Revan langsung menuju kamar mandi untuk mandi, sebelum monster itu ngamuk lagi, ehh maksudnya bunda nya Revan. Setelah membersihkan tubuhnya, Revan segera turun menghampiri Novi. Dia langsung saja makan makanan yang telah disiapi bi Suti, pembantu mereka.
"Van, nanti malam jangan keluar yah" pinta Novi
"Emang kenapa Bun?"
"Bunda sama ayah rencananya mau ngunjungin sahabat kami"
"Revan ga mau ikut" tolak nya mentah.
"Revan, bunda mohon yah, sekali aja"
"Ngga mau Bun"
"Yaudah deh, terserah kamu" ujar Novi mengalah.
°°°
"Naira, nanti sore bantuin umi masak yah?" Pinta seorang paruh baya yang menyebut dirinya umi itu.
"Iya umi, emang siapa yang mau dateng?" Tanya nya balik. Dia tau, jika umi nya itu sudah minta bantuannya buat masak, pasti akan ada tamu yang datang.
"Sahabat umi dan Abi sayang"
"Ada apa nih? Kok rame?" Ujar seseorang yang baru datang.
"Rame apanya? Cuma 2 orang juga" jawab Naira sewot.
"Sewot amat buk?" Ejek orang itu lalu tertawa geli.
"Terserah saya dong pak"
"Zaki imut, Zaki diem"
"Imut?" Tanya Naira mengangkat sebelah alisnya.
"Iya dong, liat nih muka Abang, imut-imut gimana gitu" kata Zaki dengan PD nya.
"Bukannya imut-imut, yang ada amit-amit" balas Naira lalu tertawa keras.
"Naira" tegur umi nya.
"Maaf mi" ujarnya dengan cengiran ga jelas.
"Sama gue ga minta maaf nih?" Sarkas Zaki.
"Ogah"
"Sungguh terlalu" ujar Zaki lebay.
"Udah-udah jangan berantem, masuk kamar, muroja'ah aja sana" suruh umi Sarah.
"Naira lagi tanggal merah um" ucap nya nyengir.
KAMU SEDANG MEMBACA
VANRA {TERBIT}
Teen Fiction"kita dipertemukan bukan untuk dipersatukan" Sabilla Naira Arumi "Terimakasih telah hadir, walaupun bukan takdir" Revano Putra William LENGKAP VERSI WATTPAD Rank🏅 #1 in Septi /12-5-22 #1 in Hijabers/23-6-22 #1 in Naira /2-7-22 #1 in Islami /28-8-2...
