TIGA PULUH DELAPAN (38)

611 42 9
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM YUHHHHUUUU

BAGAIMANA KABARNYA HARI INI?

SEMOGA HAPPY SELALU

AKU BALIK LAGI NIH, SEMOGA AJA PADA NUNGGUIN YA

MARI VOTE KOMEN DAN POLLOW DULU BARU LANJUT BACA

Oh iya, bantuin share cerita ini juga ya sama besti-besti kalian hihi

Happy reading cantik, ganteng

|
|
|
|
|
|
|

"Terlihat baik secara fisik, terbunuh secara psikis, dihakimi oleh ekspetasi, dikecewakan oleh realita. Dan hebatnya, dia masih bisa tertawa"

Kini tidak ada lagi Septi si paling periang, tidak ada lagi Septi yang penuh canda tawa. Kini Septi tinggal hanyalah nama saja. Namanya bukan lagi tertulis di kartu keluarga, melainkan di papan nisan

Septi benar-benar meninggalkan mereka semua. Ia meninggalkan kenangan yang akan selalu dikenang. Septi Abimanyu Wibowo ia telah benar-benar pergi. Ah tidak lebih tepatnya ia pulang. Ia benar-benar telah pulang ke pelukan Tuhan.

Vanostra kembali bersedih, salah satu sahabat mereka pulang tanpa kembali. Bukan hanya Vanostra, warga SMA 1 Airlangga juga merasa kehilangan.

Hari ini, Septi akan dimakamkan, tak ada keluarganya yang datang. Hanya Vanostra, warga sekitar dan siswa-siswi SMA 1 Airlangga tentunya

Mereka akan melepaskan Septi dengan hati yang ikhlas, harusnya seperti itu. Tapi kenyataannya, mereka belum bisa mengikhlaskan kepergian Septi yang begitu tiba-tiba

Pemakaman Septi dipenuhi oleh air mata, siapapun yang melihatnya pasti akan meneteskan air mata. Banyak sekali yang mendo'akan nya.

Bukan hanya Rezi, bahkan yang lainnya pun tak kuasa melihat Septi yang sudah dipakaikan kain yang berwarna putih itu diturunkan ke liang lahat, tempat terakhir ia.

"Sep, lo benar-benar pulang" ujar Rezi lirih, jangan lupakan air mata yang terus mengalir. Ia tidak malu dianggap cengeng, karena mereka tidak tau bagaimana perasaannya

"Lo ga ada niat balik Sep?" Tanya Rezi tanpa menerima jawaban

Angga mengusap pelan bahu Rezi untuk menguatkan sahabatnya, walau nyatanya ia juga rapuh

Hancur sudah harapannya agar Septi kembali, tempat terakhir Septi sudah ditutupi oleh tanah. Septi pulang untuk selamanya, ia tak akan pernah kembali

"Sep, gue ga kuat. Ayo balik" lirih Rezi pelan bahkan seperti bisikan

Bukan hanya Rezi, bahkan semua yang hadir pun berharap Septi kembali ke pelukan mereka bukan ke pelukan Tuhan

"Zi, jangan gini" tegur Revan

Revan pun sama, ia pura-pura menguatkan hatinya. Nyatanya ia juga hancur

Rezi tak mengindahkan perkataan Revan, ia tetap menangis memandang kosong Septi yang sudah ditutupi oleh tanah

"Sep, lo udah bahagia disana ya? Tapi gue ga bisa bahagia disini tanpa lo" cerita Rezi dengan penuh pilu

"Masih ada kita Zi" balas Angga

Sahabatnya itu sangatlah rapuh

"Gue ga kuat Ga" ujar Rezi pelan

Keadaan Rezi sekarang sangat kacau, mata yang bengkak, hidung merah, bibir pucat bahkan bergetar karena menahan tangis

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang