TUJUH BELAS (17)

967 71 0
                                        

           Teeeetttttt.....

Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah selesai, sebagian siswa-siswi berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk memanjakan perut yang sedari tadi berdemo.

Begitu juga dengan Naira dan ketiga sahabatnya

Tetapi, baru juga mereka melangkahkan kaki keluar kelas Naira memberhentikan langkahnya, membuat ketiganya menatap ia bingung.

"Kenapa berhenti Nai?" Tanya Aluna bingung

"Kalian duluan aja ke kantin, aku mau ke toilet dulu" jawab Naira cengingiran

"Ga mau ditemenin nih?" Tanya Aluna lagi

"Ga usah, kalian duluan aja. Nanti aku nyusul"

"Oke deh"

Naira melangkahkan kakinya menuju toilet yang melewati lapangan SMA 1 Airlangga. Di lapangan sana, terdapat siswa kelas 12 yang sedang bermain basket

Naira memperhatikan seseorang yang dengan lincahnya berlari kesana kesini memantulkan bola ke lantai lapangan.

"WOOOOOO......" Teriakan itu membuat Naira tersadar dan tersenyum kecil

Revan berhasil memasukkan bola ke ring lawan, membuat teriakan anggota kelompoknya dan siswi yang menonton terdengar nyaring. Ya yang sedari tadi diperhatikan oleh Naira adalah Revan, seseorang yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Memikirkan itu membuat pipi nya memanas.

Naira langsung melangkah kecil melewati lapangan menuju toilet dengan menundukkan kepalanya.

Bahkan dia tak sadar jika bola basket yang sedari tadi menggelinding di lantai lapangan melambung ke arahnya.

Bruukk

Naira memejamkan matanya. Bunyi bola basket yang menghantam punggung seseorang. Tetapi ia tak merasakan sakit apapun, jadi siapa yang terkena bola basket itu?

Naira membuka matanya, mengerjap pelan kemudian mendongak menatap orang di depannya.
Dia membelakkan matanya

"Kak Revan" cicitnya pelan

"Gapapa?" Tanya Revan dengan muka yang datar

"Ah iya gapapa kak" jawabnya gugup

Revan lah yang mengorbankan punggungnya untuk Naira. Dia yang tadi melihat bola itu melayang langsung berlari melindungi gadisnya.

"Siapa yang ngelempar?" Tanyanya dengan suara yang keras.

Membuat semuanya menunduk takut

"Siapa?" Tanyanya lagi dengan suara yang lebih keras

"Sorry Van, gue ga sengaja" ucap cowo itu menggeleng takut, Afdhal namanya

Revan memandang Afdhal marah, coba saja jika tadi Naira lah yang terkena bola itu, ia tidak segan-segan membalasnya

Revan melempar bolanya ke arah Afdhal yang berhasil menghindar, jika tidak mungkin ia akan berakhir di UKS. Berani sekali cowo itu menyakiti gadisnya

"Gue benar-benar ga sengaja Van, sorry" ucap Afdhal menunduk takut

Naira yang melihat Revan sudah emosi, menarik pelan ujung seragam Revan, membuatnya langsung berbalik ke arah Naira.

"Kenapa hm?" Tanyanya mengangkat alis sebelah. Ganteng banget woi

"Udah kak, aku gapapa"

"Hmm" hanya itu jawaban yang Revan berikan

"Kak Revan gapapa? Apa perlu Naira bantu obati?" Tanyanya sebagai bentuk tanggung jawab

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang