EMPAT PULUH TUJUH (47)

630 42 4
                                        

Assalamu'alaikum semuanya?

Bagaimana kabarnya?

Aku datang lagi nih, jangan lupa Vote komen dan follow aku

Follow Instagram aku @maulaaa_11

Happy reading 💕

|

|

|

|


     Reza sedang berada di cafe seorang diri, me time sih katanya. Ia ingin menghabiskan waktunya sendirian untuk menenangkan diri, bisa dibilang healing. Sebenarnya, me time itu perlu, penjelasan nya cari di google aja yah, males nulis.

Oke kembali ke topik

Di depannya tersedia beberapa makanan, tentunya untuk ia makan sendiri. Reza duduk santai memperhatikan sekelilingnya seraya bermain handphone. Tak ada yang menarik, hingga panggilan seseorang menyapa telponnya

"Revan? Ngapain nih anak?" Tanya Reza pada dirinya sendiri ketika melihat nama penelpon di handphonenya

"Halo Van? Kenapa?" Tanyanya langsung setelah mengangkat panggilan itu

"Kak Reza, to-tolong kak Revan" ujar seseorang dari balik handphone

Deg

Jantung Reza seperti berhenti berdetak. Suara itu adalah suara Naira. Bukan masalah siapa yang menelpon. Tapi suara penelpon nya yang bergetar, anak kecil yang menangis dan ringisan Revan. Reza panik!!

"Revan kenapa!?" Tanya Reza dengan cepat bahkan sedikit mengeraskan suaranya

Ia tidak peduli dengan pengunjung caffe yang menatapnya aneh, biarkan saja. Udah biasa ditatap seperti itu

"A-aku gatau kak" ujar Naira dengan susah payah

Reza meraup wajahnya. Oke tenang Za, jangan panik.

"Kalian dimana?" Tanya Reza, ia ingin segera menyusul mereka

"Di pantai kak, cepet ya kak" pinta Naira dengan suara yang sesenggukan karna menangis

Reza segera mematikan handphone nya, meraih kunci mobil dan tak lupa pula membayar pesanannya. Ada untungnya juga hari ini dia membawa mobil

Dengan kecepatan tinggi, tak menghiraukan pengguna jalan lain, ia mengendarai mobil nya

"Tuhan, jangan ambil dia sekarang" bisik Reza dengan nada pelan, ia takut bahkan sangat takut

Ia tidak mau, kejadian Septi terulang kembali. Bagaimana ketika Septi kesakitan, berpamitan semuanya kembali terbayang di pikiran Reza.

Panik, takut dan khawatir menjadi satu. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan mobil yang ia kendarai hampir oleng.

Tuhan, please not now!!!

Karna jarak cafe itu tidak jauh dengan pantai, membuat Reza tidak memerlukan waktu yang lama.

Ia berlari sekuat tenaga untuk mencari dimana Revan dan Naira. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pemandangan yang begitu menyesakkan dada. Jantung nya berasa dihempaskan begitu saja

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang