TIGA PULUH SEMBILAN (39)

605 39 0
                                        

Assalamu'alaikum semuanya?

Bagaimana kabarnya?

Aku kembali lagi nih, jangan lupa Vote, komen dan follow aku ya!!

Follow Instagram aku @maulaaa_11


Happy reading 💕

|

|

|

|

        


Sekarang, semua murid dan guru di SMA 1 Airlangga telah berkumpul memenuhi lapangan yang begitu luas. Tujuannya adalah untuk mengadakan pengajian terhadap almarhum Septi.

Semenjak Septi ditanyakan meninggal, semuanya berubah. Tak ada lagi Rezi yang humble dan humoris kini hanya tinggal Rezi yang pendiam dan tertutup.

Ia tak banyak bicara, berbicara secukupnya kemudian diam. Raut wajahnya lesu tak bertenaga, matanya kosong menatap ke depan.

Tak ada yang bisa mengembalikan senyum yang terpatri di bibir Rezi. Kehadiran Revan, Angga, Reza dan anak-anak lainnya tak mampu membuat Rezi tertawa lepas seperti dulu. Ia tetap merindukan dan menginginkan Septi kembali

Tetapi itu hal yang tak mungkin, Septi sudah pergi terlalu jauh. Sangking jauhnya tidak bisa kembali lagi.

Tidak ada yang bisa dibuat banyak oleh mereka, selain mengikhlaskan kepergian Septi dan mendo'akan ia agar tenang di sisi Tuhan
Semuanya telah dipersiapkan di lapangan SMA 1 Airlangga, tentunya atas bantuan anak-anak Vanostra.

Di depan sana terdapat satu foto Septi yang besar sedang tersenyum manis
Ah betapa rindunya mereka dengan senyum itu
Tak hanya itu, setelah pengajian mereka akan mempersembahkan sebuah puisi untuk sang sahabat tercinta
Pengajian dimulai dengan di pimpin oleh salah seorang ustadz

Bukan hanya guru dan murid yang ikut mendo'akan Septi, bahkan ada beberapa wali murid meluangkan waktunya untuk sekedar mengirim do'a

Keinginan Septi terwujud, ia menginginkan ketika ia telah pergi banyak yang mendo'akan nya

°°°

    Di kursi paling depan, Rezi duduk di temani Revan, Angga, Reza dan tentunya anggota Vanostra yang lain. Mereka semua lah yang paling merasa ditinggalkan

Di depan sana, Dira seorang gadis berdiri dengan selembar kertas di genggamannya.

Dengan diiringi lagu Arjuna 89 (Takdir memisahkan kita) ia membacakan puisi untuk Septi, sang pelita dan cahaya untuk mereka 

Semuanya menunduk dalam-dalam, terutama sahabat terdekatnya Septi. Bahkan sebelum diputar lagu dan puisi keempatnya lebih dulu menangis

Lagu mulai diputar, Dira pun mulai membaca puisi

Selamat jalan sahabatku...

Semoga kau tenang dan bahagia disana...

Canda dan tawa mu tak akan pernah hilang...

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang