EMPAT PULUH SATU (41)

625 49 7
                                        


Assalamu'alaikum semuanya?

Bagaimana kabarnya?

Aku datang lagi nih, jangan lupa Vote komen dan follow aku

Follow Instagram aku @maulaaa_11

Happy reading 💕

|

|

|

|

"Kadangkala kita selalu berusaha menguatkan orang lain, tetapi lupa menguatkan diri sendiri"

      Seperti hari-hari sebelumnya, Revan sedang berada di salah satu rumah sakit, yaitu tempat dimana ia akan menyelesaikan semuanya.

Ia berada di salah satu ruangan, tidur telentang dengan pandangan kosong menatap langit-langit ruangan tersebut, kapan semua berakhir? Dia tak kuat selamanya begini

Apakah seumur hidup dia harus begini?

Tuhan, dia juga manusia. Bisa merasakan yang namanya lelah

Revan mencoba tenang dengan tak memikirkan apapun, mungkin ini sudah jalannya dari Tuhan Yang Maha Esa

"Sampai kapan?" Tanyanya menatap lurus ke arah depan tanpa melihat sang paman yang berdiri di sampingnya

"Hah! Apanya?"

Ah ya Allah bisakah ia mengganti paman? Bagaimana bisa pamannya ini jadi dokter? Jika otaknya selalu ngelag?

Mereka bukan hanya berdua di ruangan itu, tapi terdapat satu suster yang dari tadi membantu Revan. Ia sedang menunduk menahan tawa, ah betapa menggemaskan paman dan keponakan ini

"Ngapain kamu nahan tawa? Kamu pikir lagi stand up komedi?" Tanya dokter Aditama menatap suster itu

Sang suster segera mengangkat wajahnya dan mendatarkan kembali bibirnya agar tidak tertawa

Revan mendengus malas, pamannya tidak bisa diajak serius, "sampai kapan begini?" Tanyanya kembali seraya menatap tangan yang menancap beberapa alat

"Sampai kamu menemukan yang cocok" jelas sang paman yang membuat Revan menunduk lemas

"Jika tidak ada?" Ia kembali bertanya kemungkinan-kemungkinan yang ada

"Seumur hidup kamu harus begini" jawab Aditama

Revan memejamkan matanya, ia pasrah dengan keadaan. Apapun dan bagaimanapun kedepannya, ia harus siap menghadapi segalanya.

Tak lama kemudian, suster itu membantu Revan melepaskan beberapa alat yang menempel di tangan Revan

"Berapa?" Tanya Revan singkat

Sontak membuat dokter Aditama menganga, ada apa dengan keponakannya ini? Apakah ia harus membayar setiap kata yang ia ucapkan sehingga ia berbicara setengah-setengah? Meskipun begitu, kekayaannya tak kan habis hanya untuk membayar kata itu, aseek holang kaya

"Gratis" Jawab Aditama, sepertinya dokter ganteng itu mengira Revan bertanya mengenai biaya

Padahal maksud Revan bukan begitu, esmosi dia

Revan memandang jengah sang dokter

"Berapa kali seminggu?" Ulang nya bertanya

Nah kan, Aditama salah paham

"Makanya ngomong tuh yang jelas, jangan setengah-setengah!" sarkas Aditama

Lagi dan lagi suster cantik itu menahan tawa, lucu sekali

VANRA {TERBIT}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang