Matahari mulai menyingsing dari timur saat Sergio membuka matanya, baru menyadari jika dirinya ada di Bali. Menoleh sebentar ke arah kiri dimana Saga masih tertidur pulas seolah tak terganggu oleh dingin nya pagi.
Sergio mengucek matanya berulang kemudian beranjak dari kamar nya. Berjalan ke arah dapur melintasi kamar Pamela yang sedikit terbuka. Sergio melihat melalui celah pintu. Hanya ada Pamela di atas ranjang dan sedang tertidur. Sergio mengetuk pintu sekali lalu membukanya saat tidak ada jawaban. Menyapukan pandangan di seluruh penjuru ruangan yang nampak lenggang dan kosong.
Sosok yang di carinya tidak ada, Sergio berjalan ke dapur yang nampak kosong, tidak terlihat ada kehidupan disana. Cowok dengan balutan kaos hitam tersebut keluar dari area villa nya, berjalan mengitari lingkungan sekitar yang dipenuhi oleh persawahan yang begitu luas, menjadi ciri khas Ubud yang tak bisa di lupakan. Tanah terasering yang sejuk dan dingin.
Mata tajam Sergio menemukan Latisha yang tengah berjalan sembari bersenandung kecil di tengah sawah yang sepi, sesekali mengabadikan lingkungan menggunakan kamera ponselnya. Sergio mengikuti jejak kaki Latisha yang membawa Sergio ke gadis berbalut dress setinggi betis.
"Udah bangun atau nggak bisa tidur?" Tanya Sergio tiba-tiba
Latisha berbalik menatap Sergio kemudian tersenyum begitu manis. Menjadi satu-satunya hipnotis di mata Sergio.
"Udah bangun sejak tadi. Mau menikmati sunrise" jawab Latisha
"Wait. . gue jadi ingat sesuatu, gue kan pernah nyumpahin Sergio berjodoh sama cewek kayak babi. Berarti, kalau gue jodohnya, gue dong yang kayak babi" batin Latisha saat ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu saat gadis itu baru beberapa hari bertemu dengan Sergio.
"Ngapain lo ngelamun" ucap Sergio dengan tangan yang melambai-lambai di depan mata Latisha yang nampak kosong
"Enggak. Takjub aja sama pemandangannya. Bagus" alibi Latisha lalu cengengesan kembali.
"Hp lo mana?" Tanya Latisha
"Di kamar, Kenapa?" Tanya Sergio
"Jam 6 pagi kan mau di umumin hasil ujian Biologi. Jangan belaga lupa" jawab Latisha dengan mata menyipit karena ia sengaja bangun pagi hari ini. Selain untuk melihat keindahan sawah Ubud, ia juga menantikan hasil ujiannya yang bagus.
Sergio melihat arloji berwarna hitam di pergelangan tangannya, masih jam 05:35 dengan artian di Jakarta masih 04:35
"Masih setengah 5 di Jakarta" ucap Sergio dengan menunjukkan arloji di pergelangan tangannya
Latisha berdecak, ia melupakan waktu yang berbeda antara Bali dan Jakarta. Sampai-sampai sangat berantusias segera bangun dari tempat tidurnya.
"Hati-hati jangan sampai jatuh. Ini sawah milik Pak Egar. Di sumpahin jadi kodok kalau sampai lo rusakin" ucap Sergio saat Latisha mulai berlari kecil bahkan sesekali memutar tubuhnya seolah gadis itu tengah berada di panggung pertunjukan pentas seni. Senyumnya yang lebar, matanya yang indah dan segala sesuatu yang terlihat begitu sempurna di mata Sergio. Ia tidak pernah mengira jika jatuh cinta dapat segila ini dalam mengoperasikan otak. Cinta mengambil alih semua kewarasan yang Sergio miliki.
Sergio tersenyum begitu tipis kemudian menyusul Latisha dengan berlari kecil, menghampiri gadis itu yang sudah berhenti melakukan hal aneh.
Jemari Sergio hendak meraih pergelangan Latisha yang bergelayut ke depan dan ke belakang. Sergio menggerakkan jari-jarinya tapi ia urungkan karena jantungnya yang kembali tidak berpacu normal, berdetak melebihi ritme detik jam.
"Mau foto bareng?" Tanya Latisha
"Boleh" jawab Sergio
Latisha menjulurkan tangan kanan nya ke depan sebagai bentuk selfie. Tersenyum di depan kamera dengan tangan kiri yang membentuk huruf V. Sedangkan Sergio hanya tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang rapi. Beberapa potret berhasil di abadikan gadis itu melalui kamera ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Flat Boyfriend
Fiksi RemajaKembar bersaudara harusnya sama, namun ini tidak. Moza Latika Pradipta dan Zoya Latisha Pradipta, memiliki sifat berbanding terbalik, bahkan berlawanan. Tidak pernah sinkron dan tidak pernah akur. Dipertemukan dengan laki-laki yang baik, dengan cara...
