(14) Luka yang Menganga

469 60 2
                                        

Sepiring sashimi dan segelas matcha latte sudah berada di hadapan Latisha saat ini. Mungkin sudah 2 tahun lamanya gadis itu tidak mendatangi restoran Jepang yang dulu menjadi favoritnya dengan Latika. Karena hubungan mereka yang renggang dan setelah itu Latisha pindah ke New York.

Latisha memakan setiap potongan Sashimi tanpa memperhatikan sekitarnya, restoran Jepang yang paling enak menurut Latisha, dan tidak ada saingannya di Jakarta. Mungkin karena pemiliknya adalah orang Jepang asli.

"Udah lama?" Pertanyaan itu familiar di telinga Latisha. Membuatnya mendongak lalu tersenyum menatap Sergio sudah datang dan lebih lama dari jam janjian

"Lumayan. Gue nggak pesenin lo. Lo pesen sendiri ya" ucap Latisha

Sergio mengangguk kemudian mendatangi meja pemesanan. Memesan semangkuk ramen dan segelas matcha latte seperti milik Latisha. Lalu Sergio kembali lagi ke meja dimana gadis bermata hazel itu duduk

"Kalo lo mau pindah meja gapapa" ucap Latisha. Mulai terbiasa dengan Sergio yang tidak nyaman jika makan bersama perempuan

"Nggak disini aja" jawan Sergio datar sembari duduk tepat di hadapan Latisha. Sergio mulai terbiasa duduk di depan gadis aneh yang sudah menabrak mobilnya tersebut

"Gimana keadaan lo?" Tanya Latisha basa-basi daripada ia terus dirundung rasa bersalah, kepikiran dan tidak bisa hidup dengan tenang.

Dia tanya ke gue? Batin Sergio bertanya dengan tatapan yang tetap datar dan lurus ke mata hazel milik Latisha.

"Halo?" Latisha melambaikan telapak tangannya tepat didepan wajah Sergio

"O. .oh sorry. Gue baik-baik aja" jawab Sergio terbata

Latisha mengangguk kemudian melanjutkan memakan sashimi nya dengan sumpit yang ada di tangan kanannya. Sergio memang terlihat sehat dan baik-baik saja. Tidak terlihat adanya gejala lain yang menunjukkan jika cowok itu mengalami kesakitan.

"Lo suka makan disini?" Tanya Sergio sembari menyapukan pandangan ke seluruh penjuru restoran. Semuanya berbau Jepang, mulai dekorasi sampai barang-barangnya.

"Lumayan. Sejak SMP, ini restoran Jepang favorit gue. Sashimi sama Ramen itu yang paling sering gue pesen disini. Rasanya luar biasa" perjelas Latisha sembari mengacungkan jempolnya seolah gadis itu adalah brand ambassador dari restoran Jepang ini. Caranya mempromosikan makanan benar-benar unik.

Sergio hanya mengangguk-angguk mengerti. Tiba-tiba Sergio merasakan tidak nyaman di sikunya yang lebam. Memang tidak terlihat oleh Latisha, karena Sergio menggunakan hoodie hijau gelap berlengan panjang yang menutup sampai ke pergelangan tangannya. Siku nya yang tidak nyaman ketika digunakan menekuk kemudian digunakan lurus. Nyerinya sampai ke tulang bahkan bahu nya yang lebam karena benturan pun ikut terasa.

Kali ini Sergio datang kemari dengan memesan taksi online. Bukan mengendarai mobilnya sendiri. Sergio tidak terbiasa menyetir dengan satu tangan terlalu lama, karena lengan kirinya yang memiliki luka lebam tidak terlalu bersahabat jika diajak menyetir seorang diri.

"Lo kenapa?" Tanya Latisha setelah menyelesaikan makanannya dan melihat Sergio seperti meringis kesakitan tanpa cowok itu sadari

"Gapapa" jawab Sergio

"Lo yakin?" Tanya Latisha dengan mengedipkan matanya berulang. Sergio seperti terpukau dengan mata yang Latisha punya hingga cowok itu mematung dan menatap Latisha lurus

"Iya" jawab Sergio datar

Beberapa saat setelah itu Ramen dan matcha latte pesanan Sergio datang dengan dibawa oleh pelayan yang kira-kira seumuran dengan Saga. Aroma ramen yang benar-benar tercium nikmat membuat Sergio ingin segera memakannya. Aroma nya saja sudah nikmat, bagaimana dengan rasanya. Itu yang ada di fikiran Sergio

My Flat BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang