Seusai mengganti seragam olahraga bersama dengan teman-teman lainnya, Latisha berjalan ke arah lapangan basket. Pak Oka - guru magang mata pelajaran olahraga sudah berdiri disana sembari melakukan pemanasan bersama dengan siswa yang sudah datang.
Latisha membentuk barisan dengan jarak 1 meter dari temannya. Ikut dengan gerakan Pak Oka. Latisha menatap punggung Sergio dengan nanar, bukan hubungan seperti ini yang diinginkan oleh Latisha.
"Oke anak-anak, hari ini olahraga kita adalah bermain basket untuk siswi dan bermain sepakbola untuk siswa. Silahkan yang merasa laki-laki bisa langsung ke lapangan" ucap Pak Oka dengan suara yang begitu nyaring sampai menggema di seluruh penjuru lapangan.
Latisha di tarik Tabita untuk ikut ke kelompoknya bersama dengan separuh siswi yang lainnya. Saat Liana hendak masuk ke grup yang dibuat Tabita, Fanny lebih dulu mendorong tubuh Liana agar menjauh. Jujur, Fanny tidak menyukai karakter Liana. Yang menurutnya baik di depan tapi menyergap dari belakang.
"Fan, nggak papa" ucap Latisha
"Gue nggak suka sekelompok sama cicak" ucap Fanny
Liana memaksakan seulas senyumnya dan mundur perlahan ke arah kelompok yang berlawanan. Mau tidak mau, kelompok yang di pimpin oleh Via itu akhirnya menerima daripada harus berkepanjangan dan berurusan dengan Pak Oka.
Permainan bola basket berjalan cukup seru dengan wasit adalah Riska yang di minta langsung oleh Pak Oka. Karena Pak Oka menjadi wasit dalam permainan sepak bola putra.
Pada babak pertama kemenangan ada di tim Tabita dengan skor 14:10 dari tim Via. Tabita berseru heboh setiap anggotanya memasukkan bola warna oranye ke dalam ring. Latisha sudah mencetak skor sebanyak 5, dan lainnya dilakukan oleh teman-temannya.
Beberapa saat seusai itu, Liana menggiring bola dengan semangat, begitu berambisi untuk mencetak skor lantaran sejak tadi tim nya sama sekali tidak memberikan peluang untuk Liana dan malah membatasi agar Liana tidak sampai mencetak skor.
Latisha memegang lututnya dengan membungkuk, mengejar dan menggiring bola basket sama lelahnya dengan mempertahankan Sergio. Latisha memutar menatap Sergio yang sedang mengejar bola dari lawannya, jika saja Latisha bisa seperti dulu, dan Sergio bisa melepaskan Liana. Mungkin hubungan mereka akan selalu baik-baik saja. Tapi nyatanya, Sergio selalu saja membela Liana, bahkan terang-terangan menghapus air mata Liana dibanding air mata Latisha sendiri.
"LATISHA AWAS" teriak Tabita dan Fanny bersamaan membuat Latisha berbalik. Bola berwarna oranye sudah menuju ke arahnya dan langsung jatuh tepat di hidung Latisha, membuat gadis itu langsung ambruk ke tanah sembari memegangi hidungnya yang begitu terasa sakit.
Semua siswi langsung menghampiri Latisha dengan membentuk lingkaran, terkecuali Tabita yang malah melotot ke arah Liana. Liana yang hendak melempar bola ke arah ring malah salah sasaran sampai ke Latisha.
"LO SENGAJA KAN BIKIN LATISHA CELAKA. LO PASTI PENGEN BALAS DENDAM KAN SAMA YANG LATIKA PERBUAT? KALAU LO MAU BALAS DENDAM, SAMA LATIKA. JANGAN SAMA LATISHA. YANG BIKIN GARA-GARA SAMA LO TUH LATIKA BUKAN LATISHA. JANGAN SOK YA DISINI" ucap Tabita keras sembari mendorong-dorong bahu Liana menggunakan telunjuknya. Tabita sudah kelewat gemas untuk membiarkan Liana mengambil apa yang Latisha miliki.
Berhubung suara Tabita keras dan ada gerombolan di lapangan basket, siswa laki-laki pun langsung mendatangi lapangan basket dengan bertanya-tanya.
Latisha melepaskan tangannya dari hidung, dan melihat banyak darah yang keluar dari indra penciumannya. Membuat beberapa orang langsung berseru kaget. Liana merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Latisha.
"Lat__" ucapan Liana terpotong lantaran Tabita sudah lebih dulu mencegat Liana yang hendak mendatangi Latisha
"Nggak usah kesana. Lo mau nyelakain dia kayak gimana lagi? Ha?" Tanya Tabita tegas
KAMU SEDANG MEMBACA
My Flat Boyfriend
Fiksi RemajaKembar bersaudara harusnya sama, namun ini tidak. Moza Latika Pradipta dan Zoya Latisha Pradipta, memiliki sifat berbanding terbalik, bahkan berlawanan. Tidak pernah sinkron dan tidak pernah akur. Dipertemukan dengan laki-laki yang baik, dengan cara...
