Berbagai warna pulpen sudah berada di hadapan Latika saat ini. Latika banyak menggaris bawahi setiap kata yang penting di buku paketnya. Bukan untuk dipelajari kembali, hanya untuk sebagai penanda jika Latika pernah mendengarkan ucapan gurunya meskipun tidak seratus persen masuk dalam setiap celah otaknya. Latika bosan duduk di bangku IPA 1 seperti ini, Latika ingin duduk di bangku IPS yang terlihat lebih santai dan tanpa beban.
"Bosen Tik" ucap Mauren yang merupakan teman sebangku Latisha sejak di SMP dulu
"Sama" jawab Latika
"Bolos aja jangan?" Tanya Mauren
"Ide bagus" jawab Latika sembari bangkit dari duduknya kemudian menarik lengan Mauren hingga membuat gadis itu terperanjat. Latika menarik pergelangan tangan Mauren sampai di hadapan Pak Beni - guru bahasa Indonesia nya yang terbilang ketus dan galak. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Latika.
"Pak saya izin ke toilet" ucap Latika
"Silahkan" ucap Pak Beni
Latika bersorak dalam hati, rencana pertamanya berjalan cukup mulus. Tidak terhambat sama sekali.
Mauren berdecak "mau kemana Tik?"
"Kantin" jawab Latika enteng seolah tanpa beban dan menganggap guru yang sedang mengajarnya di jam ini adalah guru yang senang main-main dengan kata-katanya. Dihukum ya dihukum
"Lo gila ya?" Tanya Mauren dengan suara meninggi
"Sama sekali. Udah ikut aja, nggak akan ada masalah" ucap Latika dengan wajah yakinnya. Lagi pula pelajaran Bahasa Indonesia tidak terlalu penting jika hanya membahas mengenai perbedaan rangkuman dan notula, notulis. Benar-benar aneh menurut Latika.
Mauren mengangguk-angguk, lagi-lagi Latika berlindung dibalik yayasan. Tapi beruntung, Mauren bisa berteman dengan gadis senaif Latika yang tidak takut pada apapun.
"Mau makan apa?" Tanya Latika saat keduanya sudah masuk kedalam area kantin. Yang lebih banyak diisi anak IPS yang membolos pelajaran dan memilih makan di kantin. Tidak ada bedanya dengan Latika
"Minum aja gue. Masih kenyang" jawab Mauren
"Oke" ucap Latika kemudian berjalan ke salah satu stand minuman cokelat yang ramai jika di jam istirahat. Hanya selang 2 menit, Latika sudah kembali dengan 2 cup cokelat topping keju kesukaan Mauren dan juga dirinya.
Duduk di pojok kantin dan bersandarkan tembok beton yang begitu keras. Latika bernafas lega bisa terlepas dari pelajaran bahasa indonesia.
"Gimana Latisha?" Tanya Mauren
Latika mengangkat bahunya "gitu-gitu aja. Balik dari New York"
"Ya gue tau juga Tika, maksudnya bikin ulah?"
"Enggak Ren. Tumben tertarik sama Latisha?"
"Bukan tertarik. Cuma, gue pengen tau aja" jawab Mauren
Latika mengangguk "enggak ada"
"Dia nggak bikin keluarga lo marah-marah ke lo kan? Dan mama lo nggak pilih kasih kan?" Tanya Mauren
"Enggak"
"Hati-hati Tik"
"Buat?"
"Bisa aja kan Latisha bikin tante Caca buat ngirim lo ke New York kayak dia"
"Dia kali yang dikirim" jawab Latika enteng lalu tertawa terbahak
"Latika. . Mauren. Kalian bolos di pelajaran bapak" ucap Pak Beni yang tiba-tiba datang dengan membawa penggaris panjang di tangannya. "Sekarang ikut bapak ke ruang BK" sambungnya dengan nada perintah
KAMU SEDANG MEMBACA
My Flat Boyfriend
Teen FictionKembar bersaudara harusnya sama, namun ini tidak. Moza Latika Pradipta dan Zoya Latisha Pradipta, memiliki sifat berbanding terbalik, bahkan berlawanan. Tidak pernah sinkron dan tidak pernah akur. Dipertemukan dengan laki-laki yang baik, dengan cara...
