(51) Berusaha Baikan

346 39 0
                                        

Hari terakhir di Bali, yang dilakukan Latisha adalah berkemas dan memasuk-masukkan semua barang belanjaannya dari beachwalk kemarin. Menatanya menjadi satu di dalam koper warna abu-abu.

"Kak, Pamela sama Kak Saga mau ke pusat oleh-oleh nanti sore. Kakak mau ikut?" Tanya Pamela setelah gadis itu selesai merapikan semua pakaiannya di dalam koper

"Boleh" jawab Latisha

Pamela bergumam "nanti jam 4 sore ya kak. Sekarang Pamela mau siap-siap. Mau ikut mama papa ke rumah Pak Egar. Kak Latisha mau ikut?" Tanya Pamela

"Enggak. Aku disini aja, nonton tv" jawab Latisha

Pamela mengangguk-angguk lalu menyambar handuk dan beranjak keluar dari kamar. Latisha menyalakan AC di kamar, menyibak tirai yang menutup jendela. Pemandangan sawah benar-benar menyejukkan matanya.

Di sisi lain, Sergio mondar-mandir di depan kamar Pamela saat pemilik kamar baru masuk ke dalam kamar mandi. Sergio ingin meminta maaf mengenai kejadian kemarin yang sempat membuat Latisha kesal dan tidak mau berbicara dengannya sampai detik ini. Bahkan untuk menatap pun Latisha tidak mau.

Sergio menempelkan telinganya ke pintu saat mendengar suara Latisha yang mengomel-ngomel sendiri di dalam kamar, memastikan jika Latisha tidak bersumpah serapah untuk Sergio karena kekesalannya.

"Sumpah. Kenapa cowok di dunia ini nyebelin banget?" Tanya Latisha sembari menatap tv yang menayangkan acara ftv dengan artis yang tidak begitu Latisha idolakan

Gadis itu menghela nafasnya panjang, mematikan tv dan berniat untuk ke dapur mengambil air mineral lantaran tenggorokannya terasa kering karena mengomel pada pemeran ftv yang jelas-jelas tidak bisa mendengarnya.

Tanpa aba-aba Latisha menarik gagang pintu dengan keras. Sergio yang masih menempel di pintu langsung maju dan mendorong tubuh Latisha. Kini posisi mereka sama halnya dengan ftv-ftv. Bertatapan dengan tubuh Latisha di bawah dan tubuh Sergio di atasnya. Jantung mereka kompak berdetak melebihi ritme, saling menatap dan kupu-kupu terbang dalam perut mereka masing-masing.

Latisha mendorong tubuh Sergio menjauh sebelum cowok itu mendengar detak jantungnya. Latisha menatap Sergio tajam kemudian beranjak pergi tanpa sepatah kata pun.

Sergio menyusul Latisha dengan langkah cepat, menarik lengan gadis itu daripada ribut di dalam villa dan menjadi pendengaran indah bagi Saga. Latisha berulang kali menepis genggaman Sergio dari pergelangan tangannya, tapi percuma karena genggaman itu begitu kuat.

Langkah Sergio berhenti di area terasering persawahan yang jauh dari villa. Cowok itu melepaskan genggamannya

"Soy maaf. Aku nggak bilang soal Liana minta nomor aku. Aku lupa" ucap Sergio.

"Kenapa nggak pernah cerita kalau punya teman namanya Liana? Kamu punya banyak waktu untuk menjelaskan itu ke aku Alvaro. Berbulan-bulan yang lalu, itu waktu yang begitu tepat untuk bicara" ucap Latisha dengan tangan yang bersedekap di dalam dada

"Karena aku sama Liana lost contact Soy. Selama bertahun-tahun. Kamu dengerin penjelasan aku, jangan egois" ucap Sergio. Latisha mendelik saat perkataan cowok di depannya berakhir

"Egois? Bukannya kamu lebih egois ya? Menanyakan hubungan aku sama Kak Saga yang jelas nggak ada apa-apa. Aku jelasin ke kamu, kamu juga berspekulasi sendiri" tukas Latisha

Sergio diam tak bergeming, yang dikatakan Latisha ada benarnya. Sergio sama dengan Latisha, tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain saat dalam pemikirannya adalah hal yang benar.

"Aku minta maaf soal itu. Aku lupa soal Liana. Kita baikan ya Soy?" Tanya Sergio sembari meraih tangan Latisha. Tatapan tajam langsung di luncurkan gadis itu pada Sergio, seolah membangun tembok besar di hadapan mereka.

My Flat BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang