Sergio berwajah muram saat cowok itu memasuki kamar Pamela. Sergio langsung duduk di sisi ranjang, mengangetkan Pamela yang sedang menonton drama Korea.
Sekali berdecak, Pamela langsung menekan tombol pause di layar. Kakaknya seperti tidak punya semangat hidup dalam dirinya.
"Kenapa lagi kak?" Tanya Pamela. Jika bukan dengan masalah, tidak mungkin Sergio tiba-tiba datang ke kamar Pamela tanpa mengetuk pintu lebih dulu
"Dia nggak ngasih gue kesempatan ngomong" ucap Sergio
"Kak Latisha?" Tanya Pamela
Sergio mengangguk "belum sempat gue ngomong, Latisha udah pergi. Apalagi kembarannya ikut campur juga sama masalah ini. Pakai acara bawa bangku baru biar Latisha pindah. Liana jadi sendiri, dia tertekan. Gue kasihan" ucap cowok itu lalu mengacak rambutnya yang rapi
Pamela mendengus kesal "jadi kak Gio itu kasihan sama kak Liana atau kak Latisha?" Tanya Pamela ketus
"Keduanya"
"Maruk" komentar Pamela lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Liana temen gue, Latisha pacar gue. Bingung kali Sri harus milih yang mana. Ibaratnya kayak milih antara berlian sama emas" ucap Sergio. Cowok itu benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini. Jika dirinya memilih Latisha, maka ia harus siap jika Liana kecewa. Jika ia memilih Liana, ia harus siap kehilangan Latisha. Dan semua itu tidak pernah Sergio siapkan selama ini. Sergio tidak pernah ingin kehilangan teman atau pacar.
"Lo nggak bisa milih keduanya secara bersamaan. Mereka bukan barang kak. Apalagi ini mengenai perasaan. Terus Pamela tanya, kenapa sampai kak Latisha pergi?" Tanya Pamela. Tidak akan ada asap jika tidak ada api.
"Salah ya gue menghibur Liana yang sedih? Ngilangin air matanya Liana? Dimana letak salahnya Sri? Apa itu keterlaluan?" Tanya Sergio. Mulut Pamela langsung menganga saat mendengar pertanyaan kakaknya.
"Sangat keterlaluan. Itu sudah melewati batas pertemanan. harusnya kak Sergio nggak usah menjadi pahlawan kesiangan buat kak Liana. Yang perlu kakak perbaiki itu pondasi hubungan kak Gio sama Kak Latisha. bukan hubungan pertemanan kak Gio sama Kak Liana. Kalau Pamela ada di posisi kak Latisha. Udah Pamela tampar cowok kayak kakak" jawab Pamela.
Bagi gadis itu, yang dilakukan Sergio bukanlah hal yang dapat di benarkan. Apalagi cowok itu secara terang-terangan menghapus air mata perempuan lain tanpa peduli dengan perasaan perempuannya.
"Kak Liana akan tetap hidup tanpa belas kasih dari orang lain. Dia nggak akan merasakan kehancuran seperti yang kak Latisha alami" sambung Pamela. Jujur, Pamela benci dengan sifat kakaknya yang plin-plan tidak memiliki pendirian sama sekali. Jika bisa, Pamela akan bertukar jiwa dengan kakaknya lalu menyingkirkan Liana dari sisinya agar tidak terus menempel seperti anak dengan ibunya.
"Kalau gue nggak sama dia, dia itu di sindir sama orang di sekolah. Gue nggak bisa lihat Liana sedih karena itu" ucap Sergio
"Dengan di sindir, nggak akan bikin kak Liana mati. Lagian, dengan belas kasih kak Gio, yang ada hubungan kak Gio yang bakalan mati" jawab Pamela
"Tapi dia teman gue Sri" ucap Sergio yang semakin pusing dengan keadaan. Pamela yang menginginkan Sergio melepaskan Liana, tapi Sergio tidak tega jika membayangkan Liana akan menjadi bulanan teman-temannya
"Ya udah, biarin aja kak Liana nempel. Hubungan kak Gio sama kak Latisha cuma menghitung hari" jawab Pamela ketus lalu menatap kembali layar ponsel dan melanjutkan drama Korea yang sedang santer akhir-akhir ini. Tidak berguna memberi saran Sergio yang begitu keras kepala dan berdiri pada pendiriannya sendiri. Mau diberi siraman rohani pun tidak akan mampu menembus jiwa yang kuat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Flat Boyfriend
Teen FictionKembar bersaudara harusnya sama, namun ini tidak. Moza Latika Pradipta dan Zoya Latisha Pradipta, memiliki sifat berbanding terbalik, bahkan berlawanan. Tidak pernah sinkron dan tidak pernah akur. Dipertemukan dengan laki-laki yang baik, dengan cara...
