"gimana kalau kalian ngerayain sweet seventeen? Pumpung kalian barengan begini. Akur, mama seneng lihatnya" ucap Caca di tengah sarapan sembari menatap Latisha dan Latika secara bergantian
"Papa setuju kan?" Caca beralih bertanya pada suaminya
"Kalau Papa, gimana anak-anak aja" jawab Samudra kemudian tersenyum.
"Latika kayaknya pengen sweet seventeen sama grandma sama grandpa di Amerika. Kalau papa sama mama ngizinin. Soalnya Latika kan udah lama nggak ngerayain ulang tahun sama mereka. Jadi biar ada momen nya Ma, Pa" ucap Latika
"Ya udah kalau gitu kita rayain disana aja Ka" ucap Latisha antusias
"Nggak nggak. Lo harus ngerayainnya disini. Sama papa mama, dan kak Bara. Lo kan tahun lalu udah sama grandma sama grandpa. Sekarang gantian gue dong quality time sama mereka. Gue kan udah sering merayakan disini, sekarang gantian lo. Nggak adil dong kalau gue nggak bisa rayain ulang tahun bareng grandma dan grandpa bertiga" ucap Latika
Sebenarnya bukan Latika senang merayakan ulang tahun di Amerika. Tapi ia juga menginginkan jika Latisha bisa merasakan kebahagiaan tanpa adanya Latika. Kebahagiaan yang utuh tanpa terbagi. Dan Latika ingin merasakan ulang tahun tanpa keluarga yang biasa Latisha rasakan.
"Kalau mama terserah kamu aja Latika. Kalau kamu inginnya sama grandpa dan grandma, nanti mama bicarakan sama mereka. Asal kamu seneng, mama juga seneng" ucap Caca
"Kamu nggak ingin disini di rayain bareng sama Latisha?" Tanya Samudra
"Enggak Pa. Latika pengen banget ngerayain ultah sama grandpa, grandma" jawab Latika. Wajahnya tersenyum meskipun maksa. Ia menginginkan merayakan ultah bersama dengan saudara kembarnya. Tapi ia tidak bisa egois, membiarkan kebahagiaan terbagi.
"Nanti papa urus keinginan kalian. Papa akan urus tiket keberangkatan Latika ke New York. Dan papa akan urus undangan, dan perlengkapan ulang tahun untuk Latisha" ucap Samudra. Untuk kebahagiaan seluruh anggota keluarganya, Samudra bisa melakukan semua yang mereka inginkan.
"Kak Bara kemana Pa kok nggak kelihatan?" Tanya Latisha
"Udah berangkat sekolah kakak kamu. Ada latihan tenis meja sama kepala sekolah katanya" jawab Caca
***
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Itulah yang ada di otak Sergio kali ini. Usahanya tidak akan gagal jika Danar bisa diatasi dengan baik oleh Revan.
Hari ini Sergio menunggu Latisha di atas kap mobilnya. Bersenandung kecil dan melihat sekitarnya, beberapa siswi menatapnya dan sesekali berkedip menggoda. Sergio berdecih lalu melengos begitu saja.
Beberapa menit setelah itu mobil milik Latisha masuk ke area parkir, berhenti tepat di bawah pepohonan yang rindang. Gadis yang ditunggu oleh Sergio keluar dari mobil. Menyibak rambutnya membuat beberapa orang terkesima dengan pesona seorang Latisha.
Sergio berlari kecil menghampiri gadis berambut sepunggung itu, berdiri tepat di depan Latisha, memblokir jalan Latisha untuk maju. Bahkan saat Latisha berdecak kesal, Sergio sama sekali tidak goyah dengan pendiriannya. Tidak lagi mempedulikan jika orang lain mengecapnya sebagai budak cinta atau melabeli bahwa Sergio alay.
"Minggir" ketus Latisha
Biasanya yang bersikap ketus adalah Sergio. Kali ini Latisha bisa berkata ketus dan dingin. Bukan ingin membalasnya, tapi Latisha ingin melihat jika Sergio memang memiliki usaha agar mereka berbaikan.
"Galak banget kayak macan garong" ucap Sergio kemudian terkekeh. Ingat, Sergio terkekeh dengan ikhlas, bahkan tanpa Latisha memohon-mohon seperti dulu. Di mata Latisha, Sergio begitu lucu
KAMU SEDANG MEMBACA
My Flat Boyfriend
Roman pour AdolescentsKembar bersaudara harusnya sama, namun ini tidak. Moza Latika Pradipta dan Zoya Latisha Pradipta, memiliki sifat berbanding terbalik, bahkan berlawanan. Tidak pernah sinkron dan tidak pernah akur. Dipertemukan dengan laki-laki yang baik, dengan cara...
