Brian yang baru datang bersama Aldi langsung membelalakkan mata saat melihat teman sebangkunya sedang membaca buku paket. Seorang Revan yang biasanya hanya memikirkan game dan perempuan, kini ia sedang sibuk membaca buku dan memberi warna bagian yang penting menggunakan stabilo warna-warni.
"nggak usah kerajinan" sindir Aldi sembari meletakkan tas nya di atas bangku. Jika melihat Sergio yang belajar adalah hal yang biasa, tapi kali ini ia melihat Revan si pemalas akhirnya mau membuka buku
"Nggak usah caper" tambah Brian
Yang merasa tersindir menoleh ke samping dan ke belakang secara bergantian
"Emang nggak seneng ya lihat temennya pinter" ketus Revan
"Nggak akan mempan. Ayo Mabar aja" ucap Aldi
"Mau se perpustakaan lo baca, pinter cuma kata kiasan aja" ucap Brian. Aldi menyetujui itu dengan bertos ria bersama temannya itu.
"Kalian kayaknya emang nggak mau kalau gue pinter. Yaudah ayo Mabar aja. Mau jadi kayak Sergio juga nggak muat kapasitas otak gue" ucap Revan sembari menutup bukunya dan berganti memegangi ponsel dengan keadaan miring
"Kapasitas 1 Giga byte nggak akan mampu nyaingin Sergio yang 200 Giga byte" ucap Aldi
"Sergio itu pinter melampaui batas" ucap Brian
Sementara itu yang dibicarakan belum datang karena ini masih cukup pagi dari biasanya. Semenjak Sergio balikan dengan Latisha, ketiga temannya itu tidak lagi saling menunggu di parkiran. Lantaran merasa tidak tega jika Latisha ke kelas sendiri tanpa di temani Sergio meskipun sebelum-sebelumnya gadis itu selalu sendiri. Oleh karena itu Brian membubarkan acara tunggu menunggu yang sudah menjadi rutinitasnya dulu. Kini berganti ke yang lebih prioritas.
Selang beberapa waktu, Sergio datang bersama dengan Latisha yang digandeng. Membuat seisi Salvator iri dengan dua manusia itu yang dilabeli sebagai pasangan fenomenal Salvator.
"Main game mulu udah ngerjain PR belum Van?" Tanya Sergio. Revan berfikir sejenak lalu tersenyum
"Udah" jawab Revan
"Lo udah ngerjain? Demi Alex?" Tanya Aldi yang merasa tidak percaya dengan jawaban Revan. Lantaran selama hidup di dunia ini, Revan tidak pernah mengerjakan PR, terkecuali jika ada yang memberi contekan.
"Lo baru mencoba bunuh diri terus kepala lo kebentur batu atau lo pukul kepala lo pakai besi?" Tanya Brian dengan takjub. Latisha malah tertawa mendengar pertanyaan Brian yang penuh ekspektasi
"Sulit ya kalau ngomong sama orang iri" ucap Revan
"Baguslah kalau lo ngerjain sendiri. Motivasi lo apa?" Tanya Sergio sembari membuka buku paket Biologi
"Motivasi nya mau pinter aja. Biar jadi dokter" jawab Revan asal. Tapi akhir-akhir ini mama nya sering marah-marah karena Revan terus saja bermalas-malasan tidak pernah belajar. Mengomel lalu mengancam tidak mau memberikan uang saku.
"Dokter gila" celetuk Aldi lalu fokus ke game nya kembali.
***
Seisi kantin langsung fokus ke arah Latisha dan Sergio yang baru saja masuk ke kantin. Dengan tangan Latisha yang digandeng seolah tidak mau terlepas lalu memilih tempat duduk yang kosong.
"Kamu mau apa?" Tanya Sergio
"Siomay aja boleh" jawab Latisha
"Ya udah kamu tunggu sini aja ya" ucap Sergio. Latisha mengangguk mengiyakan lalu cowok itu melenggang pergi.
Latisha membuka aplikasi instagram sembari menunggu Sergio daripada hanya berdiam dan mendapati sekitarnya menatap gadis itu dengan tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Flat Boyfriend
JugendliteraturKembar bersaudara harusnya sama, namun ini tidak. Moza Latika Pradipta dan Zoya Latisha Pradipta, memiliki sifat berbanding terbalik, bahkan berlawanan. Tidak pernah sinkron dan tidak pernah akur. Dipertemukan dengan laki-laki yang baik, dengan cara...
