(58) Terselamatkan

337 41 0
                                        

Tidak seperti kemarin yang lesu, muram dan mendung. Pagi ini wajah Latisha lebih ceria, cerah dan seolah tanpa masalah. Sudah cukup 2 Minggu untuk terpuruk pada keadaan. Kini Latisha tidak mau lagi menunjukkan wajah sedihnya yang justru membuat orang lain merasa iba atau malah bersenang diatas penderitaan Latisha. Terutama Jeslin, setiap melihat Latisha selalu tersenyum miring.

Latisha duduk di bangkunya seperti biasa, tiduran di meja dengan lengan sebagai tumpuannya. Jam masuk masih lama, pelajaran fisika yang berisi rumus-rumus penting. Sergio tetap diam di bangkunya, belajar tentang materi hari ini dan menghafalnya.

5 menit setelah itu Pak Hasan - guru Fisika datang dengan membawa beberapa buku paket, dan penggaris panjang. Tatapannya tajam menyapu ruangan, menatap semua siswanya yang lengkap.

"Silahkan keluarkan buku paketnya, dibuka bab pertama semester ini" ucap Pak Hasan dengan suara baritonnya.

Serempak seluruh siswa mengambil buku dari ransel masing-masing. Berbeda dengan Latisha yang baru sadar jika buku paketnya tertinggal di ruang makan tadi pagi saat gadis itu tengah belajar.

Sergio melirik ke belakang, menatap Latisha yang nampak kacau karena Pak Hasan cukup tertib dengan hal itu. Tidak akan memberi ampun pada siapapun yang tidak membawa buku, di hukum maka akan di hukum. Tidak ada ampunan sama sekali.

"Yang tidak membawa buku. Silahkan keluar dan hormat ke bendera sampai pelajaran saya selesai" ucap Pak Hasan tegas

Latisha hendak bangkit dari duduknya tapi Sergio lebih dulu memutar tubuhnya ke belakang, menaruh buku paket miliknya di bangku Latisha

"Makasih Latisha lo udah pinjemin gue. Ini buku lo gue balikin" ucap Sergio sembari bangkit dari duduknya lalu melenggang pergi meninggalkan ruang kelas tanpa menunggu jawaban dari Latisha. Yang bisa dilakukan cowok itu sekarang adalah menyelamatkan Latisha dari hukuman.

"Jangan bantah. Ini keputusan Sergio. Jangan tambahin masalahnya dia lagi. Dia bisa dihukum lebih berat kalau ketahuan bohong" ucap Aldi saat matanya melihat Latisha hendak mengacungkan tangannya. Tentu untuk menyanggah ucapan Sergio.

Latisha menghela nafasnya panjang, wajahnya kembali murung seperti kemarin. Kenapa Sergio menyelamatkannya padahal cowok itu senang menyakitinya.

Buku dengan rumus-rumus yang tertulis dibaca dengan seksama oleh Latisha. Pikirannya mengarah ke Sergio yang kini berada di lapangan, menerima hukuman dari Pak Hasan atas kesalahan yang tidak ia perbuat.

Latisha bangkit dari duduknya, berjalan ke depan dimana Pak Hasan sedang menerangkan

"Pak saya mau izin ke toilet" ucap Latisha

"Silahkan" jawab Pak Hasan

Latisha melenggang pergi, bukan ke arah toilet, tapi ke arah lapangan upacara. Mendatangi Sergio lalu menutup ubun-ubun cowok itu dengan punggung tangannya. Sampai Sergio menoleh ke samping, mendapati Latisha berdiri di sebelahnya.

"Kamu ngapain ngelakuin ini? Harusnya aku yang disini. Bukan kamu" tanya Latisha

"Kemanusiaan. Karena kamu nggak bisa kena panas. Kena panas langsung pingsan" jawab Sergio dingin

Latisha menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh dari matanya lalu tersenyum paksa

"Jangan ngelakuin hal bodoh begini lagi. Jangan bikin aku salah paham sama tindakan kamu. Tindakan yang nggak bertanggung jawab" ucap Latisha lalu menurunkan tangannya ke bawah. Membiarkan sinar matahari menyengat kepala cowok itu

"Kalau iba. Bukan begini caranya" sambung Latisha. Matanya berkaca-kaca. Lagi-lagi Sergio menanamkan harapan padanya. Menanamkan kesalahpahaman lagi.

My Flat BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang