James melihat kedatangan Edward, pria bermata hijau itu memakai kaos turtleneck berlengan panjang berwarna abu-abu dengan trench coat hitam. James tidak merasa asing dengan penampilan itu, karena Edward juga sering berkeliaran.
"Kehidupan manusia lumayan menyenangkan," kata Edward. Lalu memanggil seorang pegawai bar untuk meminta bir.
"Raja Altas tidak mungkin membiarkanmu datang ke sini tanpa alasan. Kau diberikan tugas?" tanyanya.
"Ayahku memang selalu membuatku sibuk. Tapi kali ini aku datang bukan karena perintahnya."
James hanya mangut-mangut. "Bagaimana kabar Ratu Elvisa?" tanyanya. Meskipun Ratu Elvisa bukan ibunya, tapi ia lebih peduli terhadap wanita tersebut daripada ibunya sendiri.
Edward menoleh dengan sudut bibir tertarik. "Kenapa kau tidak menanyakan ibumu saja?"
Pertanyaan Edward membuat James menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin tahu apapun tentang wanita itu, dia sulit dikendalikan," beritahunya agak kesal.
Kini suara kekehan Edward pun terdengar jelas di telinganya. "Kurasa kau sudah mengetahui rencana ibumu setelah mendapatkan Elena menjadi menantunya," katanya dan mengambil botol bir untuk menuang isinya ke dalam gelas.
"Wanita itu menyuruhku untuk membunuhmu. Dengan begitu Raja Altas tidak punya pilihan lain selain mewarisi kerajaannya padaku dan Elena," James memberitahu.
"Sayangnya Ratu Irina merasakan kemenangan dalam sekejap." Edward tersenyum miring sambil mengangkat gelas kecil yang sudah terisi penuh. "Tapi, setelah itu kematian Elena yang mendadak membuatnya terdiam. Bahkan Elena belum sempat memberi kerajaannya keturunan," Edward menambahkan lantas meminum bir dalam sekali teguk.
"Itulah sebabnya kau masih hidup. Kematian Elena menyelamatkanmu dari kematian," timpal James merasa menyerah dan kecewa.
"Begitupun juga dengan kematian Rose," sambung pria bermanik hijau itu lagi sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
Kemudian James menatap gelasnya yang masih kosong, ia terdiam sesaat lalu menoleh curiga pada Edward. "Mungkinkah mereka mati karena menyelamatkanmu?"
Terdengar Edward berdecak kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Rose ataupun Elena adalah adikku, tidak mungkin aku membiarkannya mati hanya karena diriku. Lebih baik aku yang menjadi tumbal untuk kerajaan —seperti adikmu."
Detik itu juga raut wajah James berubah resah. "Jangan membahas Laura! Karena aku tahu kau yang membunuhnya, jangan sampai aku bertengkar denganmu di sini," sergahnya memperingati. Kemudian meraih botol bir dan meneguk sisanya hingga tandas.
Sementara Edward kembali menggeleng kecil melihat perilaku seorang pangeran yang jiwanya mengalami stress berat tentang masalah hidup dan mati. "Kau terlihat semakin menyedihkan. Sebaiknya kau berhenti mencari tahu tentang kematian Elena sebelum kau diagnosis sakit jiwa," sarannya. Kemudian menurunkan laba-laba biru tua yang sedari tadi diam di bahunya ke atas meja.
"Tapi aku tidak bisa tenang sebelum aku menghabisi orang yang telah membunuh Elena," sahut James melirik hewan yang Edward letakan di atas meja. Seketika ia ingat Elena memberi laba-laba itu dengan nama Sean. Membuktikan bahwa gadis itu sangat mencintai Sean walaupun telah kehilangan ingatan tentang pemuda itu.
"Aku menghabiskan waktuku selama 18 tahun untuk membunuh Elena, tapi pada akhirnya aku menangisi kematiannya," tutur Edward tersenyum, kemudian meraih gelasnya untuk diisi bir lagi.
"Ya, setelah kau menyadari bahwa Elena adalah Rose. Selain itu kau juga mencintainya." James menarik gelas yang Edward isi dan meneguknya sampai tak tersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)