Tak terpikirkan oleh Elena kalau Hitler akan bertindak begitu cepat. Jari-jari tangannya mengepal dan tubuhnya mondar-mandir tak jelas di dekat jendela. Elena merasakan ketakutan yang amat besar mengenai kondisi ayahnya dan Ratu Elvisa. Bagaimana jika Hitler melakukan sesuatu yang mengerikan kepada mereka, seperti—seperti menghabisi mereka.
Kepala Elena rasanya mau meledak memikirkan kemungkinan yang terjadi, bila ia bergerak ke Duvland sekarang sama saja menyerahkan nyawanya. Hitler bukanlah tandingannya, dia penyihir hebat yang tidak mudah terkalahkan.
Matanya melirik seonggok tubuh yang tergeletak di lantai, Ruel masih pingsan dengan posisi menindih lengan kanan. Tahu bagaimana rasanya tangan itu pasti akan mati rasa ketika Ruel bangun. Segera Elena menggulir tubuh pria itu, menarik lengannya dan membopongnya keluar dari kamar itu.
Damien, Sean, dan Kelly terlihat duduk di sofa saat Elena keluar. Langsung ia menjatuhkan tubuh Ruel di hadapan mereka bertiga hingga terkejut bukan main. Mereka pasti mengira Elena telah membunuh Ruel, terlihat dari ekspresi Sean dan Damien yang melotot lebar. Sementara Kelly meneguk ludahnya samar ketika melihat pemandangan itu, merasa segan terhadap Elena.
“Berita buruk, Hitler sudah melakukan serangan ke Duvland,” beritahu Elena, cemas bercampur kesal.
“Apa?” Damien berdiri tidak percaya, “Aku baru saja dari sana, untunglah Raja Altas mengirimku ke sini lebih cepat atau aku akan bernasib sama seperti dia.” Sambil menunjuk Ruel.
“Dan sekarang aku mencemaskan ayahku dan Ratu Elvisa, Hitler pasti melakukan sesuatu pada mereka, bahkan kepada seluruh penghuni Duvland,” kata Elena tak berhenti merasa cemas.
“Tapi kita tidak mungkin pergi ke sana, penyihir itu pasti membawa banyak penyihir hitam lainnya,” sergah Sean tahu Elena yang akan melakukan berbagai cara untuk memecahkan masalah, biarpun dengan cara berbahaya dan nekad. Sean hanya memperingatinya agar tidak melakukan hal aneh lagi.
“Aku tidak cukup kuat untuk mengalahkannya, mantra-mantranya pasti akan melumpuhkanku dengan mudah.”
“Bagaimana jika kita meminta bantuan ibu? Dia bisa meminjamkan pasukan vampirnya kepada kita. Aku yakin ibu mau membantu,” usul Damien, tetapi ia tidak yakin juga.
Elena menggeleng memandang Damien. “Itu bodoh, Marion tidak akan merelakan pasukannya mati sia-sia demi membela duvel. Kau tahu duvel tidak suka vampir atau orang asing,” jelasnya pusing.
Yang dikatakan Elena benar, Damien terlalu bodoh mengusulkan itu. Lagi pula ibunya pasti tidak akan setuju, sama saja memusnahkan kaum vampir kalau sok membela duvel yang jelas-jelas membenci mereka. Apa lagi penyihir bukan tandingan yang lemah bagi vampir.
“Aku harus cari cara untuk mengalahkan Hitler, buku-buku di ruang bawah tanah itu pasti menyimpan sesuatu seperti informasi mengenai kelemahan penyihir.” Elena melesat ke ruangan di mana ia sempat membuat ramuan.
Sementara Sean masih duduk di sofa dengan cemas, entah apa yang ingin dilakukan Elena setelah mendapatkannya. Sean hanya khawatir gadis itu lebih membahayakan dirinya sendiri. Apa lagi sebelumnya mereka nyaris mati.
“Dia Maddie ‘kan?” tanya Kelly yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, ia curiga.
“Dia Elena, pacarku!” tekan Sean pada gadis pirang yang duduk berdekatan di sebelahnya.
Kelly langsung mengeryit. “Tapi dia sudah mati, beritanya tersebar di Sindy setahun yang lalu, yah meski aku tidak begitu tahu wajahnya. Bagaimana dia bisa hidup lagi?” tanyanya.
“Maddie yang selama ini kita kenal itu Elena,” beritahu Sean lagi.
Mulut Kelly menganga lebar seolah berteriak ‘apa’ di dalam kepalanya tidak menyangka. “Dia menusukku tiga kali, sekarang aku tidak heran mengapa dia melakukan itu,” katanya sambil menatap Sean. “Dia cemburu,” tambahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)