Fantasy - Romance (18+)
•
Sequel from ROSE DEATH
•
Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander.
Diduga kematiannya yang misterius...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•Ä•
Jasad Hitler tampak diletakan di atas sebuah meja batu di taman istana. Ratu Alisha kemudian menyerahkan pedang pada Elena, menyuruhnya untuk membangkit pria penyihir itu dengan segera. Namun, gadis itu mengeryit menatap pedang yang disodorkan padanya.
"Memang aku yang membunhnya, bukan berarti darahku layak untuk membangkitkannya. Bukankah hanya pewaris yang bisa melakukan itu?" tanyanya.
"Edward mewariskannya padamu," kata Alisha.
"Bagaimana kau tahu?"
"Saat Edward menerima pedang itu, dia harus memutuskan siapa yang menjadi pewaris berikutnya. Dia memilih adiknya, Rose. Itu artinya kau," beritahunya.
"Kenapa dia tidak berpikir untuk mewariskannya pada anak-anaknya?" tanya Elena heran.
Raja Altas berdehem ingin bicara. "Edward memiliki masalah seksual, dia selalu menolak ketika kusarankan untuk segera menikah. Dia hanya fokus pada tugas-tugas yang kuperintahkan," terangnya.
Elena menatap sang ayah tanpa ekspresi. "Itu sebabnya aku selalu menjadi korban permainan kerajaan," sindirnya.
"Bila kupasangkan Edward dengan Putri Laura, sudah pasti dia akan ditikam pada malam pertamanya. Putri dari Ratu Irina itu tidak pernah bermain-main dengan perintah, bersyukurlah Edward yang lebih dulu menikamnya," tegas Altas.
Elena berpaling. "Menceritakan masa lalu hanya buang-buang waktu," katanya dan mengambil pedang dari Alisha. Kemudian menatap Hitler yang masih berbaring di atas meja batu.
"Kau tahu caranya bukan?" tanya Alisha.
"Tentu saja."
Elena membuka mulut Hitler, mengulurkan tangan kiri di atasnya. Mengangkat pedang berdarah dan menggores telapak tangannya tanpa ragu-ragu. Darah segar dan kental mengalir keluar memasuki mulut Hitler.
"Bersiaplah untuk menikamnya Elena, dia tidak perlu waktu lama untuk bangkit," beritahu Alisha.
Elena menyunggingkan senyuman getir. "Ini seperti permainan. Kita hidup, kemudian kematian menjemput, lalu hidup dan mati lagi. Itu terasa lebih kejam dari sekedar kematian yang benar-benar membuat kita mati," katanya. "Itu penyiksaan."
"Kau hanya tidak bisa menerima kenyataan," sahut Alisha.
"Kenyataan itu menyebalkan," desis Elena dan Alisha langsung terdiam.
Gadis itu lantas mengalihkan pandangan ke arah jasad Hitler yang mulai terlihat kembali segar. Luka di dadanya pelan-pelan tertutup. Elena menjatuhkan pedang berdarah, memunculkan mawar kematian di tangannya dan bersiap-siap.
"Tikam dia saat matanya mulai terbuka," titah Alisha ikut memperhatikan, sementara Altas terlihat lebih tenang dengan kedua tangan di belakang punggung.