Chapter 53

118 14 2
                                        

Duvland sedang mengalami kekacaun besar. Dalam dua hari Hitler mampu menaklukan tiga kerajaan sekaligus bersama ratusan pasukan penyihirnya, tinggal Kerajaan Morgan dan Kerajaan Arthur yang masih tersisa. Dua kerajaan itu tidak bisa diremehkan, mereka memiliki pasukan yang kuat dengan elemen mereka yang luar biasa. Terutama Raja Arthur yang kapan saja bisa mengguncang tanah Duvland dan menghancurkannya menjadi butiran debu. Hitler harus berpikir dua kali untuk mengadu pasukannya.

Sementara itu Hitler mulai melakukan perbudakan terhadap penduduk kerajaan yang berhasil ia taklukan. Memenjarakan pemimpin dan para petinggi kerajaan dalam sel yang sudah diselubungi mantra yang mampu meredam kekuatan para duvel. Tidak hanya itu, Hitler berencana untuk membunuh mereka semua agar Duvland hanya bisa dimiliki oleh penyihir hitam dan membangun kepemimpinannya seorang diri.

Malam ini Hitler mengadakan pesta besar untuk merayakan kemanangannya. Mengundang Kerajaan Morgan dan Arthur untuk bergabung dalam pestanya, sayangnya kedua kerajaan tersebut memilih untuk diam karena tidak mau berurusan dengan Hitler agar kerajaan mereka tetap aman, serta melakukan penjagaan ketat dengan menurunkan pasukan ke perbatasan wilayah kerajaan masing-masing.

Ratu Irina terlihat mondar-mandir tidak karuan di dalam ruangan pribadinya. Sementara sang suami duduk menatap pusing melihatnya.

“Apa dia sudah gila mengundang kita? Aku yakin itu jebakan. Aku tidak mau dia menguasai kerajaan kita. Ayahku pasti akan kecewa padaku kalau Hitler berhasil menaklukan kita, lalu membunuh kita,” ucap Ratu Irina resah, tidak pernah berhenti memikirkan tentang hal itu dari kemarin.

“Irina, kita masih memiliki waktu untuk bertindak dan melakukan pertahanan. Aku yakin Hitler tidak akan berani menyerang kerajaan kita,” balasnya berusaha untuk menangkan Irina untuk kesekian kalinya.

Ratu Irina berdecak kasar. “Apa kau tidak lihat Morgan? Hitler manumpas tiga kerajaan, dalam dua hari dia bisa melakukannya. Sementara kita, merebut satu kerajaan saja membutuhkan waktu yang lama. Kurasa Hitler tidak ke sini karena dia perlu beristirahat setelah tiga kemenangannya. Setelah dia punya cukup tenaga pasti dia akan menyerang ke sini, kita harus melakukan sesuatu.” Ia bertambah panik karena pemikirannya sendiri.

“Kita sudah membicarakan ini berulang kali dan kita sudah melakukan tindakan untuk mencegah Hitler menyerang kerajaan kita. Tidakkah kau bisa tenang sedikit? Aku pusing mendengar omelanmu.” Raja Morgan bangkit dari duduknya, ingin menuju pintu keluar. Irina pun memberinya tatapan sengit.

“Morgan, raja macam apa kau? Tidakkah kau khawatir kita kehilangan semua ini?” tanya Irina marah.

Raja Morgan menoleh sebelum membuka pintu. “Irina, kerajaan kita bahkan seluruh Duvland sekali pun akan mengalami kehancuran. Bila Hitler mengghabisi kita semua, dia tidak akan bertahan lama. Sekarang yang aku pikirkan hanyalah putra kita, pastikan dia baik-baik saja,” katanya.

Raut wajah Irina memerah, tangannya mengelap, detik berikutnya memutar tubuh memunggungi suaminya sambil bersedekap dada. “James baik-baik saja, kau tahu dia senang tinggal di bumi,” katanya.

“Baiklah kalau dia baik-baik saja,” kata Raja Morgan.

Pintu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya ketika Raja Morgan hendak membukanya, lalu menampilkan seorang pria berjas biru tua yang wajahnya terlihat begitu pasrah. Di belakangnya berdiri James dengan semburat wajah jengkel ketika melihat ibunya.

“Stefan?” ucap Raja Morgan kedatangan kakak iparnya.

Irina yang mendengarnya langsung berbalik untuk melihat, juga terkejut mendapati putranya ada di sini. “Stefan, kenapa kau membawa James kemari?”

 “Bukan hanya putramu saja, menantumu juga datang,” beritahu Stefan. Elena pun menyembul dari balik punggung James memperlihatkan dirinya.

Kedua mata Irina menyipit, semenatara Raja Morgan nyaris tidak percaya.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang