Chapter 44

109 12 0
                                        

Seorang pria berjalan tegas di antara pilar-pilar bangunan kastil yang sudah lama ditinggalkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seorang pria berjalan tegas di antara pilar-pilar bangunan kastil yang sudah lama ditinggalkan. Sinar bulan tampak menyusup dari celah-celah atap runtuh yang berlumut. Di depan sana sebuah singgasana kokoh menanti untuk diduduki. Setelah ini Hitler akan kembali mengambil kekuasaannya. Dendam-dendam yang selama ini terkubur akan ia selesaikan.

"Senang kembali ke rumah," seru Hitler sembari menyeringai senang.

Setelah menduduki singgasananya Hitler menatap enam penyihir yang berdiri di depannya dengan pandangan menelisik, dan juga seorang wanita yang disandera oleh mereka terus saja menatapnya penuh benci seakan-akan menyesal telah membangkitkannya.

Hitler menatapnya lekat, tetapi terkesan tajam dan kecewa. Namun, dengan cepat Hitler memalingkan wajahnya. "Aku membutuhkan banyak pasukan, kumpulkan semua penyihir hitam malam ini. Kita akan membuat rencana besar," titahnya.

"Baiklah tuanku," balas Blake Johnson. "Sebelumnya, kita apakan pedang ini?" tanyanya menunjukan sebuah pedang yang sedari tadi ia pegang.

"Serahkan padaku!" pinta Hitler.

Setelah menyerahkan pedang berdarah itu, Blake Johnson dan penyihir lainnya bergegas pergi untuk mengabarkan kepada seluruh penyihir hitam bahwa Hitler telah berhasil dibangkitkan dan akan kembali mengambil kekuasaan yang telah lama mereka nanti-nanti. Di sana Beryl terlihat merasa tidak tenang dalam situasi ini.

Kini hanya tertinggal Alisha dan Hitler. Suasana menjadi hening sejenak, pria yang masih duduk di singgasananya itu mengamati pedang di tangannya dengan mata sedikit menunjukan kekaguman. Hitler bisa merasakan energi yang begitu kuat tersimpan di dalam pedang itu.

"Apa yang bisa dilakukan pedang ini?" Hitler bertanya.

"Pedang itu ditempa dengan ritual khusus, kau tidak boleh sembarangan menggunakannya." Alisha mengingatkan. Bila Hitler tahu tentang pedang itu, tidak menutup kemungkinan kalau pria itu akan membunuh lebih banyak makhluk supernatural untuk memperkuatnya karena pedang itu memakan darah dan merampas kekuatan.

"Persetan, pedang ini tidak akan berguna kalau aku mengambil kekuatannya."

Kedua mata Alisha sedikit melebar. Dengan segera merebut pedang itu menggunakan kekuatannya dengan membentuk sebuah bayangan akar pohon guna menjerat pedang itu dan menariknya. Dalam persekian detik akhirnya pedang berdarah itu berada dalam gengamannya.

"Sial!" Hitler bangkit sembari menggeram kesal.

"Aku tahu tempat yang cocok untukmu," ujarnya sambil berjalan ke samping. "Ligabis," lanjutnya mengucapkan sebuah mantra untuk mengikat tubuh Alisha dengan cara tak kasat mata.

"Liber," lirih Alisha membuat pria itu berhenti dan menoleh ke arahnya dengan sedikit raut terkejut. "Kau tidak bisa memperdayaiku dengan mantra-mantramu," katanya.

"Kau semakin kuat." Hitler merasa sedikit kagum dengan perkembangan wanita itu. "Meskipun begitu, tetaplah aku yang lebih kuat dari makhluk apapun di muka bumi ini, tidak ada yang bisa membunuhku. Dan kau sudah lihat sendiri bahwa kematianku hanya sementara," terangnya angkuh.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang