Chapter 6

224 29 3
                                        

Kota Sindy sedang dilanda hujan lebat. Orang-orang pejalan kaki tampak mengenakan jas hujan dan membuka payung mereka. Jalan raya pun terlihat lengang membuat James lebih leluasa mengendarai mobil sedan hitam kebanggaannya. Dan ia rindu Elena duduk di sebelahnya. Biasanya gadis itu akan terdiam sembari menundukan kepala.

Kini hanya bayangan yang bisa James tangkap melalui penglihatannya. Ia akan bertanya dan berusaha mengajak Elena untuk berbicara, meski kadang tanggapan gadis itu terlalu singkat bila membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Tapi James tidak pernah menyerah untuk menghiburnya. Sungguh kini ia sangat merindukan momen-momen kecil yang telah mereka lakukan bersama.

Sindy, adalah kota terakhir yang mereka kunjungi. Kota yang dikelilingi hutan dan perbukitan, namun tidak terdapat gedung-gedung pencakar langit seperti kota-kota lainnya. Tapi hanya ada satu gedung tinggi berbentuk seperti menara jam yang terletak di pusat kota.

Sekarang James melewatinya untuk menuju alamat yang diberikan oleh Joana. Ketika ia hampir sampai, curah hujan perlahan menipis dan membuat beberapa burung yang singgah di dahan pohon beterbangan ke udara. James memperhatikan burung-burung itu hinggap di atas atap sebuah rumah di sisi kiri jalan.

Rumah itulah yang akan James datangi. Lalu ia memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Untuk memastikan alamatnya tidak salah, James merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Ya, alamatnya benar 178 Suny Street.

James segera keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki pekarangan rumah tersebut. Rumah yang terkesan elit dengan dua lantai yang langsung terhubung dengan garasi di sebelah kanannya. Terdapat undakan kecil menuju pintu utama. James pun menekan bel 3 kali dan menunggu pemilik rumah itu keluar.

Pintu terbuka, terlihat seorang gadis berambut silver blonde dengan headphone tergantung di lehernya sembari memasang raut bertanya. Matanya menelisik memperhatikan wajah James lekat-lekat.

"Elena's brother?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat.

"Ya, aku ingin bertemu ibumu," balas James sedikit tersenyum.

Gadis itu bersedekap dada sambil menyandarkan bahu di kusen pintu. "Bukannya kasus hilangnya adikmu sudah ditutup? Lagipula untuk apa kau bertemu dengan ibuku lagi? Kau tidak punya sebuah hubungan khusus dengannya, kan?" Gadis itu menatap curiga.

"Tidak. Bisakah sekarang aku bertemu dengannya?" tanya James menekan emosi, senyuman masih melekat di bibirnya. Jika saja ia tidak ingat sedang berada di mana, pasti sudah ia bakar rambut indah gadis itu.

"Ya, masuklah," balas gadis itu mempersilahkan.

"Duduklah, aku akan memanggil Nyonya Joanna yang terhormat," kata gadis itu sambil memutar bola mata dan melenggang pergi. Terdengar dari cara bicaranya seperti tidak menyukai Joanna.

James melangkah menduduki sofa ungu muda di ruangan itu dan memperhatikan sekelilingnya. Beberapa detik berlalu, akhirnya Joanna muncul dari lorong yang terhubung dengan halaman belakang rumah itu.

"Akhirnya kau sampai," ujar wanita berkaca mata itu tersenyum dan langsung mengambil duduk di hadapan James.

"Apa yang ingin kau bicarakan sampai mengundangku datang kemari?" James bertanya langsung pada intinya.

"Tentang adikmu, Elena," balasnya sambil menyunggingkan senyuman misterius.

James mengerutkan dahinya. Seperti ada hal yang di sembunyikan olehnya terkait dengan ucapan Sean tadi malam; tentang Joanna mengincar identitas Elena. Ia curiga wanita itu memiliki niatan buruk.

"Apakah kasusnya dibuka lagi? Bukankah aku sudah menjelaskannya?" tanya James karena beberapa bulan lalu ia memberitahu pihak berwajib bahwa Elena sudah meninggal agar tidak ada lagi yang mempertanyakan tentang keberadaannya.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang