Chapter 38

136 16 1
                                        

Kedua netra Maddie langsung membulat sempurna setelah mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Sean. Bukan karena pertanyaan itu aneh, melainkan nama yang pemuda itu sebutkan untuknya. Tidakkah itu keliru? Atau memang di sengaja? Bahkan nada suaranya sungguh membuat jantung Maddie mendadak berpacu dengan cepat.

Sean pun melompat turun dari atap makam dan mendekatinya. Wajah pemuda itu masih tampak dingin, serta pandangan matanya tak lepas dari Maddie seolah ingin menerkam.

"Aku tidak mengira kau akan menyusul, tadi kau bilang tidak mau ikut," kata James.

Sean mendelik tajam ke arah James, kemudian kembali menatap gadis di depannya. "Kau baik-baik saja Maddie?" tanyanya lagi.

Sontak Maddie mengeryit dalam-dalam, ia sungguh tidak salah dengar 'kan? Sean menyebutnya dengan dua nama yang berbeda. Mungkinkah kali ini Sean hanya keliru lagi?

"Ya, aku baik-baik saja," balas Maddie kemudian. "Seharusnya kalian berdua tidak ada di sini."

"Damien memberitahu kami bahwa kau sedang dalam bahaya. Si vampir itu sangat khawatir, dan mengirimku untuk membantumu," jelas James yang berdiri di sampingnya. Bahkan pria itu dengan sengaja meletakan tangannya di bahu Maddie.

Cepat-cepat Maddie menjauh, tingkah James sangat aneh dan membuatnya tidak bisa berpikir positif bahkan setelah pria itu lancang menciumnya.

"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak akan lupa bagaimana kau ingin membunuhku," ucap Maddie sengit.

"Tenanglah Maddie, James tidak akan menyakitimu lagi. Dia sadar bahwa istrinya bunuh diri dan mengkhianatinya," sela Sean.

Maddie menatap datar kedua laki-laki itu dan terdiam beberapa detik. "Baiklah, sebaiknya sekarang kalian bersiap-siap karena ada banyak musuh yang mendekat!" titahnya karena merasakan para hunter datang ke tempat mereka.

"Kita akan melawan mereka semua?" tanya Sean.

"Berusahalah untuk saling melindungi," balas James.

Maddie, James, dan Sean pun langsung sigap dan saling memunggungi ketika pasukan hunter datang menyerbu sembari menodongkan senjata api. Mereka bertiga hanya bisa diam di tempat karena tidak mungkin langsung melawan, akibatnya akan sangat buruk bila seandainya para hunter itu menembak secara bersamaan.

"Sial, mereka sangat banyak," desis Sean.

"Aku tidak bisa mengandalkan apiku untuk menghindari serangan senjata mereka," ujar James geram.

"Senjata mereka tidak akan berguna bila kita bisa membunuh orang yang mengendalikannya. Bakar saja mereka semua hidup-hidup. Bila mereka sempat menarik pelatuknya, aku akan menghancurkan pelurunya," kata Maddie berbisik pelan.

"Itu gila!" ujar Sean.

"Kita harus siap membunuh kalau tidak mau terbunuh," ucap gadis itu lagi.

"Kau benar," timpal James.

"Baiklah, aku akan menarik perhatian mereka," tukas Sean.

Tiba-tiba suara gemuruh pun terdengar menggelegar keras di langit. Diselingi kilatan petir dan angin yang berhembus kencang hingga menerbangkan dedaunan. Hal itu sukses menarik perhatian para hunter dan menatap langit karena melihat cuaca yang secara mendadak berubah di pemakaman itu.

"Kau yang melakukannya?" tanya James pada Sean.

"Ya, aku sudah cukup tahu bagaimana cara melakukan koneksi dengan alam," ucapnya. "Sekarang giliranmu!"

Tidak mau kalah James pun mengeluarkan api dari kedua tangannya dan langsung menyerang para hunter selagi mereka legah. Sontak semuanya terkejut dan berusaha memadamkan api yang melahap tubuh mereka. Namun terlambat, hunters yang berhasil tersulut api milik James terbakar dengan sangat cepat hingga dalam sekejap menjadi abu.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang