Chapter 2

285 32 8
                                        

Ketika gerbang kampus perlahan mulai tertutup, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam masuk melewatinya. Tentu hal tersebut mejadi perhatian beberapa orang sebab mobil tersebut jarang terlihat.

"Sepertinya orang kaya," ujar Max. Sementara Sean yang berdiri di sampingnya hanya menatap datar, sama sekali tidak tertarik untuk melihat apalagi berkomentar.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan teras utama, lalu seorang gadis turun dari kursi penumpang.

"Wait, what? Elena?" Max terkejut sekaligus tidak percaya sampai harus menyipitkan penglihatannya agar terlihat lebih jelas, benar saja itu adalah sosok Elena.

Sekarang Sean turut ikut memperhatikan sambil mengeryitkan dahi. Detik berikutnya ia langsung tidak peduli karena tersadar bahwa gadis itu bukanlah Elena, melainkan Maddie Harlow. Karena Tuan Albert yang mengantarnya.

"Oh tidak-tidak! Dia gadis yang berbeda, dia lebih cantik dan keren," ujar Max mengaguminya.

Sean yang tidak peduli langsung berbalik berjalan menuju kelasnya, tidak ingin menjelaskan apapun pada Max. Sahabat pirangnya itu sangat antusias bila sedang membicarakan soal wanita cantik. Dan kini Sean yakin Max akan berusaha mendekati Maddie.

"Sean, ada apa denganmu? Apakah kau tidak tetarik padanya? Lihatlah gadis itu mirip dengan Elena." Max melangkah menyusul Sean.

"Aku hanya mencintai satu Elena dan itu cukup, tidak ada Elena lainnya lagi," kata Sean sembari terus melangkah. "Lagi pula sekarang aku berpacaran dengan Kelly," tegasnya kembali.

"Oh baguslah, kalau begitu aku bebas mendekatinya." Max tersenyum miring dan berbalik arah.

Apapun alasannya Sean sama sekali tidak tertarik untuk mendekati Maddie. Karena sekarang tak lagi mampu untuk mencintai seseorang. Hatinya masih terperangkap dalam kegelapan dan kerapuhan, hingga takut untuk memulainya lagi dan membuat dirinya kembali hancur.

Ketika Sean berbelok di persimpangan koridor, langsung dikejutkan oleh Kelly. Kemudian gadis pirang itu memberinya senyuman karena berhasil membuatnya terkejut. "Kau terkejut sayang?" tanyanya.

Sean menggeleng dengan tatapan dingin. "Bisakah kau tidak bersikap menyebalkan ‒sayang?"

Kelly tersenyum getir dan melingkarkan lengannya di leher Sean. "Oh ayolah, kenapa kau selalu menunjukan wajah jelek itu padaku? Tersenyumlah, kau akan terlihat tampan," katanya dengan nada memohon.

Dipelaskannya lengan Kelly dari lehernya. "Maaf Kelly, aku harus segera pergi ke kelas."

Sean mulai beranjak, tapi lagi-lagi Kelly menahannya. "Cium aku terlebih dahulu," pintanya sembari memberinya senyuman mengoda. "Setelah itu kau boleh pergi."

Akhirnya Sean mendekat dan mencium Kelly dengan lembut tepat di bibirnya. Seperti biasa gadis itu langsung membalas dengan senang hati, seolah mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.

Tapi faktanya tidak ada perasaan cinta dalam hubungan mereka. Kelly hanya memanfaatkannya demi meningkatkan popularitas. Sementara Sean hanya menepati perjanjian di antara mereka. Jadi keduanya bukanlah sepasang kekasih yang memiliki ikatan cinta yang murni. Hanya saling memanfaatkan untuk sebuah tujuan.

"Astaga, di hari pertama aku langsung mendapat pemandangan seperti ini," komentar seseorang terdengar mengeluhkan apa yang sedang mereka lalukan.

Hal itu membuat Sean maupun Kelly segera mengakhirinya. Sean menyadari gadis itu adalah Maddie, tapi dia hanya menghiraukan dan kembali menatap Kelly.

"Aku yakin dia iri melihat kita bermesraaan," kata Kelly tersenyum sinis dan kembali menarik leher Sean untuk melanjutkan hal yang tertunda. Tapi Sean menolak dan melepas paksa tangan Kelly dari lehernya.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang