Chapter 61

164 13 0
                                        

⚠️ 18+
Peringatan untuk pembaca di bawah umur supaya hati-hati membaca bab ini. Mengandung adegan seksual eksplisit.

*

Mata biru terang Sean melirik ke sekitar, lalu menatap ayahnya dengan sengit karena tempat yang ia pijak saat ini tidak sesuai harapannya.

"Aku ingin bertemu Raja Altas, bukannya ke sini Ayah," kata Sean marah menatap sang ayah karena itu adalah aula singgasana Kerajaan Morgan.

"Kau ingin bertemu Putri Elena bukan?" Stefan berusaha sesabar mungkin menghadapi putranya.

"Ya, aku sangat ingin bertemu dengannya. Tolong bawa aku ke sana sekarang juga!" pintanya memaksa.

Stefan menghela napas sebelum menjelaskannya lebih lanjut. Lalu Irina datang dari arah pintu masuk dengan wajah terheran.

"Stefan! Kenapa kau membawa putramu ke sini?" protesnya. Sementara Sean memasang wajah malas melihat sang bibi.

"Ya, aku ingin menitipkan Sean sebentar di sini, turuti semua yang dia inginkan. Kau juga punya tanggung jawab untuk mengurusnya saat aku tidak ada. Sampai jumpa," kata Stefan lalu menghilang menggunakan teknik teleportasi. Membiarkan Irina yang mengurus Sean sekarang.

Wajah Irina pun tampak kesal lalu menoleh ke arah keponakannya. "Baiklah. Apa yang kau inginkan?" tanyanya sambil memaksakan senyuman.

"Elena," balasnya mantap.

Kedua alis Irina nyaris bertautan dan agak terkejut mendengar permintaan Sean. "Kenapa kau menginginkan menantuku?"

"Dia tidak mengabariku selama berbulan-bulan, aku perlu tahu apa yang terjadi padanya. Sekarang tolong bawa aku bertemu Raja Altas karena aku yakin dialah yang tidak mengijinkan Elena bertemu denganku," jelas Sean tidak sabaran.

Keryitan di dahi Irina mengkerut makin dalam. "Apa kau pikir Raja Altas menahan putrinya?" tanyanya. "Oh astaga... seharusnya kau tidak ada di sini, kau akan mengacau," lanjutnya, kemudian menggapai tangan Sean.

Sebelum sang bibi dapat mengapainya, Sean bergerak sedikit menjauh. "Aku tidak ingin kembali pada Ayahku. Aku berjanji tidak akan mengacau, aku hanya ingin bertemu dengan Elena. Sebentar saja, aku mohon," katanya bersikeras.

Tidak tahu harus melakukan apa lagi, Irina akhirnya menghela napas pasrah dan mau tidak mau harus mengabulkan permintaan Sean. "Baiklah, karena kakakku sudah berpesan agar kau mendapatkan keinginanmu, maka pergilah ke kamar James dan lihat sendiri keinginanmu," ujarnya.

Sean mengeryit bingung. "Kenapa aku harus pergi ke sana?"

"Lihat saja, kau akan tahu," tegas Irina lalu melenggang pergi karena tidak mau memperpanjang urusan dengan putra kakaknya.

Sean pun terdiam sejenak, pikirannya berlabuh ke mana-mana. Segera menuju tangga untuk pergi ke kamar sepupunya. Jantungnya berdebar kencang ketika melihat pintu kembar berukuran besar di ujung sana. Tiba-tiba pintu itu terbuka, memperlihatkan beberapa pelayan keluar. Para pelayan itu pun terlihat sedikit tegang melihat kehadirannya.

"Putra Pangeran Stefan," ujar seorang pelayan sambil membungkuk hormat padanya.

Sean tidak menghiraukannya, membiarkan para pelayan itu pergi dari hadapannya. Pintu kamar James yang masih terbuka tampak sepi dan tidak ada siapa pun di dalam sana. Tiba-tiba suara tawa terdengar dari samping membuat Sean menoleh cepat dan menemukan seorang laki-laki dan perempuan berpakaian kerajaan menghadap ke luar balkon. Perempuan itu tampak menggendong bungkusan kain.

"Warna matanya sangat persis seperti milikmu," ujar perempuan itu terdengar bahagia.

"Warna matanya sangat persis seperti milikmu," ujar perempuan itu terdengar bahagia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang