Tidak ada yang lebih baik selain diam dan menerima kenyataan. Tapi bayangan yang selalu menusuk kepalanya kian membuatnya frustasi. James tidak akan berhenti sebelum mengetahui jawaban dari semua pertanyaannya. Karena tujuan hidupnya sekarang hanyalah menemukan orang yang telah membunuh istrinya.
“Aku berjanji akan menghabisi orang brengsek yang telah tega membunuhmu,” gumam James mengamati cincin pernikahan milik Elena.
Begitu lama James termenung di dalam mobilnya sampai terdengar suara gemuruh menggelegar keras berasal dari langit. Sepertinya sebentar lagi kota ini akan diguyur hujan lebat.
Tiba-tiba terlihat seorang laki-laki mengetuk pintu kaca mobilnya dari luar. James tampak tidak asing dengan wajah laki-laki itu. Segeralah ia membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya James menyadari bahwa laki-laki itu adalah orang yang telah memukul Trudy mengunakan tongkat baseball.
“Tolong berikan ini pada Nona Harlow,” pinta laki-laki itu menyerahkan sebuah kalung berliontin merah.
James meraih kalung itu sembari diamatinya batu merah itu baik-baik. “Apa istimewanya batu ini sampai wanita hunter sialan itu menginginkannya?” tanyanya karena masih kesal dengan wanita yang mengaku anggota polisi dan memanfaatkannya.
“Apakah kau sungguh tidak menyadarinya?” tanya laki-laki itu menyunggingkan senyuman misterius.
“Menyadari apa?” James tidak mengerti sama sekali.
Laki-laki itu mendekati James seperti memperingati sesuatu. “Aku sarankan kau tidak terlalu terlibat dengan Trudy Evanders. Cukup sampai di sini dan buang semua pertanyaanmu dari apapun yang kau lihat,” katanya.
Tatapan James berubah lebih tajam. “Apakah Maddie mencuri batu ini? Itu artinya dia seorang kriminal?” tanyanya dengan nada menekan.
Laki-laki itu tersenyum getir seolah James salah paham mengenai Maddie. “Nona Harlow selalu tahu kapan harus mengambil tindakan, entah itu baik ataupun buruk. Berikan saja batu rubi itu padanya!” titahnya.
James terdiam sesaat. “Kenapa tidak kau saja?”
“Kurasa dia sedikit sibuk dengan sepupumu, atau mungkin dengan seseorang yang menempati ruangan di sebelah apartemenmu.” Laki-laki itu melirik ke arah bangunan yang menjulang tinggi, seolah tahu apa yang sedang dilakukan oleh Maddie di sana.
James tidak mengatakan apa-apa lagi dan berlalu meninggalkan laki-laki itu. Segera ia menuju lantai paling atas untuk memastikan Sean baik-baik saja. Sesampainya di sana, lorong di lantai tiga apartemen terlihat sepi dan gelap. Padahal waktu di lobi lampu masih enyala.
Dengan hati-hati James melangkah menyusuri lorong hingga mendadak kilatan petir sekejap membuat lorong menjadi terang. Ia menemukan seseorang berada di dekat pintu ruang apartemen Andy. Untuk memastikannya James menunggu sampai kilatan terjadi lagi.
Sayup-sayup terdengar suara geraman seperti sedang menggerogoti sesuatu. James perlahan bergerak mendekat sampai suara itu terdengar jelas di depannya. Tiba-tiba kilatan petir kembali menyambar, saat itulah James terkejut melihat seorang gadis menoleh ke arahnya dengan mulut berlumuran darah.
Gadis itu melempar tubuh Andy jatuh ke lantai dan menatap James dengan raut santai, seolah tidak merasa takut dipergoki.
“Maaf, aku kehilangan kendali,” kata Maddie sembari mengelap sisa darah di bibirnya menggunakan jarinya sendiri.
“Kau—,” James sungguh terkejut sampai tidak bisa menyuarakan apapun. Ia masih bisa melihat Maddie agak samar dalam kegelapan.
“Ya, aku vampire,” Maddie mengakui.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)