“Di mana ayahku?” Seorang gadis terlihat emosi dan menerobos masuk ke dalam ruang kerja milik Albert.
Sebab ketika terbangun tadi, ia ingat tentang apa yang terjadi kemarin. Terakhir kali ayahnya datang lalu membuat dirinya pingsan, dan kini ia terbangun di rumah hingga melupakan tentang Sean yang masih ada di tempat itu.
Albert yang tengah mengisi berkas-berkas penting menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan sabar. “Pelankan suaramu, nanti Revina dengar!”
“Aku hanya ingin tahu di mana ayahku. Mengapa dia datang lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa? Bahkan kemarin dia membuatku pingsan,” bentaknya lantas mendekati meja kerja Albert.
Pria beriris abu-abu itu hanya bisa menghela napas sesabar mungkin. “Sekelompok manusia bersenjata memasuki portal menuju Negeri Duvland. Sepertinya Altas sedang mengurus hal itu bersama kerajaan lainnya. Dia seorang raja, maklum kalau dia sibuk,” beritahunya.
Maddie langsung mengeryit. “Sekelompok manusia bersenjata? Maksudmu hunter?”
“Aku tidak tahu, Altas bilang kelompok manusia itu belum tertangkap sampai sekarang, kurasa mereka bersembunyi dan melakukan penyamaran,” jelas Albert lagi.
Mendengar penjelasan Albert, ia merasa yakin bahwa sekelompok manusia itu merupakan pasukan hunter yang dikirim oleh Trudy untuk mencari pedang berdarah. Pastinya sekarang Kerajaan Altas sedang dalam bahaya karena pedang berdarah yang mereka incar ada di tangan Edward.
“Jangan terlalu banyak bertingkah selagi batu rubi itu tidak ada di tanganmu,” Albert memperingati karena melihat ekspresi gadis itu.
“Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya ingin tahu di mana ayahku,” katanya lantas melengos pergi. Agak menjengkelkan karena Albert seperti tidak mempedulikannya lagi, mungkin pria itu sudah lelah karena masalah yang ia perbuat.
Seharusnya ia tidak lagi bertanya tentang keberadaan Altas. Pria itu sudah pasti berada di Duvland dengan berbagai urusan kerajaan. Tapi tidak menutup kemungkinan ayahnya pergi ke suatu tempat di mana Ratu Alisha bersembunyi.
Bila dipikir-pikir, benda pembangkit yang diincar oleh Trudy merupakan milik Ratu Alisha. Batu rubi dan juga pedang berdarah. Masing-masing benda itu memiliki cara kerja yang berbeda.
Batu rubi hanya bisa membangkitkan seseorang yang merupakan keturunan dari penyihir hitam. Sementara pedang berdarah bisa membangkitkan seseorang yang terbunuh oleh pedang itu sendiri selagi jantungnya tidak ditikam. Pemilik pedang akan memberikan darahnya untuk diminum oleh orang yang ingin dibangkitkan.
Ada satu hal yang membuatnya tidak mengerti. Hitler adalah penyihir hitam, seharusnya bisa bangkit hanya dengan mengandalkan batu rubi. Tidak perlu pedang berdarah atau tiga korban supernatural. Dan seharusnya tidak memerlukan pemicu.
Tapi apa mungkin Hitler terbunuh oleh pedang berdarah? Sepertinya hanya Ratu Alisha yang bisa menjawab pertanyaannya.
Segera gadis itu menuju kamarnya, lantas mandi dan berganti berpakaian. Banyak hal yang menusuk pikirannya saat ini. Dimulai dari James yang ingin membunuhnya, lalu Sean yang entah bagaimana keadaannya. Kemudian Nate dan Carl yang tidak bisa ia terima kematiannya. Yang terakhir Trudy dan pasukan hunter-nya yang merepotkan. Ia tidak bisa menanganinya secara bersamaan.
Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya. Disusul suara Revina yang terdengar berteriak.
“Maddie sayang ada tamu ingin bertemu denganmu,” katanya. Nada bicaranya sungguh menjengkelkan dan berlebihan.
Langsung saja ia menuju pintu dan membukanya. “Siapa?” tanyanya.
“Entahlah, sepertinya dia pernah datang ke sini,” Revina menjawab angkuh lantas melenggang pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)