Tubuh Maddie kembali mendadak lemas dan kepalanya pusing, serangan mantra tadi masih bisa ia rasakan hingga tubuhnya tidak berdaya. Langkah kakinya bahkan melambat, pandangannya seketika memburam. Tapi dengan sisa kekuatannya, ia masih bisa berdiri. Detik selanjutnya tubuhnya akhirnya terhuyung ke samping.
“Maddie!” Sean dengan sigap menangkap tubuh gadis itu dan menggendongnya bridal.
Maddie tampak mengeryit sembari memegangi kepalanya. Ia bisa merasakan rintik hujan deras menghantam wajahnya. Matanya pun perlahan terbuka.
“Sean...,” panggilnya lirih.
“Aku akan menggendongmu. Katakan, kemana kita harus pergi?” tanya Sean.
“Di ujung jalan setapak ini mobilku terparkir,” balas Maddie dengan nada suara lemah. Lalu mencari posisi ternyaman dalam gendongan Sean, wajahnya tenggelam dalam lipatan lengan pemuda itu.
Sean mengangkat sedikit tubuh Maddie. Gadis itu tampak mulai memejamkan matanya lagi. Ia pun berjalan perlahan melewati jalan itu dengan penuh kehati-hatian karena banyak kubangan air dan lumpur.
Hujan semakin deras membuat pakaian mereka semakin basah kuyup. Sean pun mendekap Maddie untuk menghalangi hujan membasahi gadis itu. Tidak mungkin seseorang akan melemah hanya karena sebuah mantra, kecuali mereka adalah makhluk kegelapan. Seperti seorang pastor yang membacakan doa untuk mengusir roh jahat.
Apa Maddie benar-benar vampire seperti Elena atau gadis itu memang Elena? Sean menatap wajah gadis itu. Hanya ada satu cara untuk membuktikannya. James bilang, hanya Elena yang boleh mengigitnya di leher. Untuk itu Maddie harus menggigitnya tepat di sana. Bila ia masih hidup, itu artinya Maddie adalah Elena. Tapi bagaimana dugaannya salah? Ia pasti akan mati.
“Sean,” gumam Maddie. “Bawa aku pulang,” katanya sembari mencengkram hoodie biru tua yang Sean kenakan. Kepalanya kian memusing serta udara dingin membuatnya tidak berdaya. Ia sangat membutuhkan kehangatan.
Sean melihat tangan dan wajah Maddie memucat. “Bertahanlah, aku sudah melihat mobilmu,” beritahunya lantas berlari kecil.
Sampai di mobil, Sean langsung meletakan tubuh gadis itu di kursi penumpang dan mengambil alih kemudi. Tapi ia tidak tahu berada di kawasan mana sekarang.
“Putar balik dan terus ikuti jalan. Kau akan menemukan perbatasan kota,” ujar Maddie. Tidak lupa ia memberitahu alamat rumahnya juga pada Sean.
“Baiklah,” balas Sean kemudian segera pergi dari sana.
Dengan keadaan pakaian yang basah pastinya tubuh Maddie semakin membeku. Vampire memang menyukai kelembapan dan membenci sinar matahari, namun Maddie berbeda. Tubuhnya yang memang dingin tidak bisa menerima suhu yang rendah dari luar tubuhnya. Hal itu bisa membuatnya berada dalam keadaan kritis. Ia bukan hanya vampire.
Hampir 15 menit Sean mengemudi dengan kecepatan penuh, akhirnya mereka memasuki kota. Keadaannya masih hujan dan suara gemuruh kerap kali terdengar. Saat itu waktu menunjukan pukul enam sore. Sekarang Sean harus segera menuju rumah Maddie, gadis itu terlihat tertidur lelap memeluk dirinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon yang diyakininya berasal dari laci mobil, pastinya suara itu dari ponsel milik Maddie. Sean pun mengambil dan mengangkatnya setelah mengetahui bahwa itu adalah Max.
“Hallo, Maddie kau di mana?” Suara Max langsung terdengar ketika Sean menempelkan ponsel itu di telinganya.
“Kenapa kau mencari pacarku?” tanya Sean balik dengan nada super dingin.
“Sean? Astaga, apakah kau baik-baik saja?” tanya Max tercengang.
“Iya.”
“Oh, syukurlah. Aku benar-benar mencemaskanmu,” ujar Max di seberang sana terdengar lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)