“Kau tahu kemana James membawa Maddie?” tanya Sean ketika ia dan Nate berada di dalam mobil Lincoln miliknya.
“Aku sudah melacak ponsel Nona Harlow, sekitar empat puluh lima mil hingga melewati perbatasan kota,” sembari memperhatikan google maps di ponselnya.
Mata Sean langsung membulat sempurna setelah mendengarnya. “Apa yang sebenarnya James pikirkan sampai membawa Maddie ke luar dari kota?”
“Entahlah, sekarang cepat jalankan mobilmu dan ikuti petunjuk jalan di maps ini.” Nate menunjukan ponselnya pada Sean.
Segeralah pemuda itu menjalankan mobilnya bersama Nate yang menunjukan setiap arah yang harus ditempuh. Tidak memakan waktu lama untuk mencapai batas kota, kini mobilnya telah berada di kawasan hutan dengan pepohonan lebat di kedua sisi jalan. Bahkan kabut tipis saat itu terlihat menutupi pepohonan, menghalangi cahaya matahari menembus jalan.
Kedua orang itu lantas saling diam karena jalan yang ditempuh hanya satu jalur. Sean yang masih fokus menyetir sesekali melirik ke arah pria bertopi di samping kanannya. Ia ingin membuka obrolan lagi tapi pria itu terlihat kurang suka bergaul. Suasana ini terlalu awkward untuk dua orang lelaki yang terjebak dalam satu ruangan meski baru saling mengenal.
“Berapa kecepatan mobilmu?” tanya Nate karena merasa kendaraan yang ditumpanginya ini melaju sangat lambat.
“Di bawah rata-rata,” sahut Sean.
“Naikan menjadi maksimal atau kita bertukar posisi,” ujar pria itu menolehkan kepalanya dengan raut muka dingin.
“Tidak bisa! Ayahku tidak mengijinkanku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Lagi pula kondisi berkabut berbahaya untuk kebut-kebutan,” Sean menolak.
“Persetan, ayahmu tidak ada di sini. Cepat tepikan mobilmu!” Nate mendesak karena tidak tahan dengan mobil yang melaju begitu lambat, semakin menambah kegusaran hatinya.
“Kau ingin kita celaka?”
“Lebih buruk kalau Nona Harlow celaka kalau kita tidak segera sampai di sana tepat waktu,” sungut Nate kesal.
Sean menghela napas sabar mengingat Maddie sedang dalam bahaya. Tidak ada salahnya juga melakukan hal nekad demi menyelamatkan seseorang meski nyawanya menjadi taruhan.
“Baiklah,” katanya pasrah sambil menggerutu.
Kemudian pemuda bernetra biru itu menginjak pedal gas hingga perlahan kecepatan mobilnya menjadi maksimal. Untungnya jalanan saat itu sepi dan tidak terlalu berliku, memudahkan Sean mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Not bad,” seru Sean terkagum. Pemuda banyak tingkah itu tidak percaya dirinya berani melajukan mobil seperti layaknya seorang pembalap.
Tak lama kemudian muncul lekukan jalan yang cukup curam membuat Sean harus menginjak pedal rem hingga ban mobilnya berdecit, refleks membanting stir seperti melakukan rolling speed tanpa mengurangi kecepatan. Hal tersebut membuat Sean berkeringat dingin saking paniknya karena hampir saja menabrak sebuah pohon.
“Be careful!” pinta Nate karena ikut mengalami shock.
Mobil masih terus berjalan, namun sekarang Sean kembali mengunakan kecepatan di bawah rata-rata. Ia tidak mau hal seperti tadi terulang kembali. Hampir saja mereka berdua dijemput malaikat kematian.
“Aku tidak bisa melakukan itu lagi. Rasanya jantungku mau copot,” ujar Sean kapok dan trauma. Tangannya yang memegang stir tampak bergetar.
“Yeah, tapi kita tidak boleh membuang banyak waktu. Lajukan mobilmu secepat yang kau mampu. Setengah perjalanan lagi kita akan sampai,” kata Nate sembari memeriksa maps di ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)