Chapter 20

221 19 11
                                        

Saat ini Maddie tengah menggenggam ponselnya sembari mondar-mandir tak karuan di dekat jendela. Sudah berulang kali ia melakukan panggilan kepada Nate tapi tak kunjung ada jawaban. Ia hanya ingin menanyakan keadaan Carl.

Maddie menjadi takut terjadi sesuatu pada Nate karena keberadaan Carl yang kapan saja bisa membahayakan. Pada akhirnya Maddie memutuskan untuk pergi saja ke rumah lelaki itu. Diraihnya long coat hitam yang tergantung di balik pintu dan memakainya.

Dengan cepat Maddie menuruni anak tangga hingga melihat dua orang pria masuk dari arah pintu utama. Tentu saja itu Albert, namun pria yang satunya yang berambut pirang terlihat sangat asing.

“Kau akan pergi?” Albert bertanya karena menyadari gadis itu menuruni tangga.

“Aku ada urusan, hanya sebentar,” jawabnya.

Sebelum Maddie pergi, terlihat Albert merogoh saku jasnya, mengeluarkan botol kecil berisi cairan merah kental. Kemudian menyodorkannnya pada gadis itu. “Gunakan dengan baik, untuk berjaga-jaga bila seandainya kau kembali terluka,” katanya.

“Baiklah.” Maddie menerimanya dan menyimpan botol kecil itu ke dalam saku long coatnya. Setelah itu ia pun melesat pergi. Sebelumnya Maddie sempat melihat Albert menghela napas, sepertinya pria itu tidak ingin ia pergi dari rumah. Tapi saat ini keadaannya cukup genting.

Maddie memilih membawa mobil karena tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk melesat. Ia melajukan mobilnya semakin cepat ketika jalanan terlihat lengang. Rasa khawatirnya terbilang cukup besar terhadap Nate karena selama ini lelaki itu sering membantunya, dan rekan terbaik yang pernah Maddie kenal. Itu karena Nate sudah lama bekerja untuk keluarga Harlow.

Sesampainya di rumah sederhana milik Nate yang letaknya dekat dengan hutan, Maddie langsung mengetuk pintu rumah lelaki itu. Masih tidak ada respon ataupun tanda-tanda orang ingin membukakan pintu.

Mau tidak mau Maddie harus membukanya sendiri. Ketika memutar ganggang, sialnya pintu itu terkunci. Sepertinya ia harus mencari jalan lain. Tentu Maddie tidak ingin membobolnya saat beberapa orang terlihat berlalu lalang di sekitar rumah ini.

Maddie mencoba mengitari rumah Nate, barang kali ada celah untuk masuk. Dan ketika ia sampai di belakang rumah, sebuah pintu tampak hancur, seperti baru saja didobrak dengan keras. Merasa aneh dan semakin cemas, Maddie pun bergegas masuk. Dan tepat di sisi kiri terdapat tangga menuju rubanah.

Buru-buru Maddie menuruni tangga tersebut, dan ketika sampai di bawah, pintu rubanah juga tampak rusak. Mungkin benar bahwa Carl belum bisa mengendalikan sisi serigalanya dengan baik.

Sekarang matanya menangkap sosok Nate tergeletak pingsan di lantai dengan bahu dan lengan terluka. Maddie mendekatinya dan berharap masih ada harapan bagi lelaki itu untuk bangun. Air liur serigala bagaikan racun bagi vampire. Bila tidak segera ditangani kemungkinan besar Nate akan mati.

Sebelumnya Maddie merogoh botol kecil yang tadi diberikan oleh Albert untuknya. Cairan di dalam botol itu merupakan darah dari peri penyembuh, tak heran setelah meminum darahnya akan memberi efek yang cepat untuk menyembuhkan luka.

Dibukanya tutup botol itu dan meneteskannya sedikit ke dalam mulut Nate. Sekarang tinggal menunggu darah itu bekerja. Maddie terus menatap cemas jikalau darah itu tidak bisa membuat Nate kembali bangun.

Maddie pun memutuskan untuk menunggu dan duduk bersandar di sisi dinding. Ia memeriksa ponselnya yang terasa sempat bergetar. Baru beberapa saat ia meninggalkan rumah, Albert sudah menelponnya. Maddie pun memilih untuk mengiriminya pesan bahwa hari ini ia sedikit sibuk, mungkin akan pulang terlambat.

Tak lama setelah itu, terlihat wajah Nate mengeryit lalu membuka matanya perlahan. Maddie benar-benar merasa lega saat itu juga dan mendekati lelaki itu.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang